Dharma dan Drama sebagai Dialektika Budaya Kalimantan Timur

oleh -72 views
Marliana Wahyuningrum Penggiat dan Pemerhati Budaya Kaltim

KALIMANTAN Timur dikenal sebagai tanah yang kaya akan hutan, sungai, dan keberagaman etnis. Dari masyarakat Dayak di pedalaman hingga Melayu pesisir, setiap kelompok membawa tradisi dan nilai budaya yang membentuk wajah Kaltim. Di tengah kekayaan ini, menarik jika kita menilik kehidupan budaya Kaltim melalui dua konsep universal: dharma dan drama.

Meski berasal dari akar budaya berbeda—dharma dari tradisi India dan drama dari tradisi Yunani—keduanya dapat dipahami sebagai dua sisi kehidupan: dharma sebagai pedoman moral dan harmoni, drama sebagai ekspresi konflik dan realitas. Lalu, bagaimana keduanya hadir dalam konteks Kalimantan Timur?

Dharma: Jalan Kebenaran di Tanah Borneo

Dalam budaya Kalimantan Timur, dharma tercermin dalam:
• Adat Dayak, yang menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan roh leluhur. Pelanggaran adat dianggap mengganggu keseimbangan kosmos.
• Tradisi Melayu-Islam, yang menekankan kewajiban beribadah, berbuat baik, dan menjaga kejujuran. Nilai moral dan spiritual ini menjadi fondasi dharma dalam kehidupan sehari-hari.
• Etika ekologis, sebab masyarakat Kaltim sangat bergantung pada hutan dan sungai. Menjaga kelestarian lingkungan berarti menegakkan dharma dalam arti modern.

Dengan demikian, dharma dalam konteks Kaltim adalah jalan hidup yang mengikat manusia pada harmoni dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Drama: Ekspresi dan Gejolak Sosial

Di sisi lain, drama juga hadir kuat dalam budaya Kaltim:
• Sebagai seni pertunjukan, drama tampak dalam tarian perang, teater rakyat, dan ritual adat yang penuh ekspresi. Seni ini bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana pendidikan moral.
• Sebagai realitas sosial, drama terlihat dalam konflik kepentingan, sengketa tanah, hingga dinamika politik lokal. Inilah wajah lain drama yang memperlihatkan gejolak masyarakat.

Drama mengingatkan bahwa hidup tidak selalu tenang; ada pertentangan dan perbedaan yang justru membentuk warna-warni budaya.

Dialektika Dharma dan Drama

Keduanya tidak bisa dipisahkan. Dharma memberi arah agar hidup tetap terjaga pada kebenaran, sementara drama menjadi cermin tentang bagaimana manusia sesungguhnya menjalani hidup dengan segala konflik dan emosi.

Dalam budaya Kaltim, keseimbangan antara dharma dan drama adalah kunci. Dharma menegakkan keteraturan adat dan nilai spiritual, sedangkan drama membuka ruang refleksi agar masyarakat tidak kehilangan sisi kemanusiaannya.

Kalimantan Timur mengajarkan bahwa kebudayaan selalu hidup dalam dialektika: antara keteraturan dan konflik, harmoni dan gejolak. Dharma dan drama adalah dua sisi yang saling melengkapi. Tanpa dharma, drama hanyalah keributan; tanpa drama, dharma bisa membeku menjadi aturan kaku.

Dari bumi Borneo, kita belajar: menjaga dharma untuk harmoni, dan menerima drama sebagai cermin kehidupan. Dengan keseimbangan keduanya, masyarakat Kaltim mampu merawat jati diri budaya sekaligus menghadapi tantangan modernitas. (*)

*) Marliana Wahyuningrum
Penggiat dan Pemerhati Budaya Kaltim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.