DPRD Berau Tekankan Optimalisasi Tata Kelola Sampah demi Pendapatan Daerah

oleh -43 views
Sutami

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Berau meminta Pemerintah Kabupaten Berau mengoptimalkan pengelolaan sampah melalui sentuhan teknologi. Selain memperpanjang usia pakai Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), pengolahan limbah yang tepat dinilai berpotensi menjadi sumber baru Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Salah satu inovasi yang menjadi sorotan adalah Refuse Derived Fuel (RDF), yang mampu mengonversi limbah padat menjadi bahan bakar alternatif industri maupun produk bernilai jual lainnya.
Mitigasi “Bom Waktu” di TPA

Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami, menegaskan pentingnya sistem pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Menurutnya, kebiasaan membuang sampah langsung ke TPA tanpa proses penyaringan akan memperpendek masa operasional lahan pembuangan tersebut.

“Sampah tidak boleh langsung dibuang begitu saja ke TPA. Jika pola ini terus berlanjut, TPA akan cepat penuh dan menjadi ‘bom waktu’. Kita harus memastikan lahan yang ada bertahan untuk jangka panjang,” ujar Sutami, baru-baru ini.

Ia mengusulkan agar sektor usaha, seperti perhotelan, wajib memiliki sistem pemilahan mandiri. Dengan demikian, hanya residu yang benar-benar tidak dapat diolah lagi yang berakhir di pembuangan akhir.


Sinergi Bersama Pihak Ketiga

Sutami juga menyarankan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau untuk menjajaki kemitraan dengan pihak ketiga atau lembaga konservasi dalam pengelolaan sampah skala besar. Ia menilai, pengelolaan secara profesional akan jauh lebih efisien dibandingkan dilakukan sendiri dalam volume kecil.

“Kami mendukung adanya kerja sama untuk mengelola sampah yang bernilai ekonomis. Jika dikelola secara serius, ini akan menghasilkan PAD. Namun, prioritas utamanya tetap pada tata kelola agar sampah tidak menumpuk sia-sia di TPA,” tambahnya.


Evaluasi Realistis Target PAD

Meski menjanjikan potensi pendapatan bagi daerah, DPRD menyarankan agar pemerintah tidak terburu-buru menetapkan target retribusi di awal masa kerja sama. Sutami memandang perlunya masa uji coba untuk mengukur keberlanjutan operasional mitra.

“Kita lihat dulu keberhasilannya dalam satu atau dua tahun pertama. Setelah operasional berjalan stabil, baru kita evaluasi berapa kontribusi PAD yang realistis untuk ditarik,” jelas Sutami.

Melalui pendekatan ini, diharapkan persoalan sampah di Kabupaten Berau tidak lagi sekadar menjadi beban lingkungan, melainkan bertransformasi menjadi produk bernilai guna sekaligus menjaga kelestarian ekosistem perkotaan.

(adv/dprd26/ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.