Minim Fasilitas Pendingin, Operasional TPI Tanjung Batu Belum Maksimal

oleh -7 views
TPI Tanjung Batu. foto Toni Arman Dimensinews.id

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Potensi besar sektor perikanan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, masih terbentur keterbatasan infrastruktur pascapanen. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Batu yang diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi pesisir, hingga kini belum mampu beroperasi optimal akibat ketiadaan gudang pendingin (cold storage) dan pabrik es.

Kondisi ini menjadi ironi bagi Kampung Tanjung Batu yang secara geografis berada di lokasi strategis dengan kekayaan sumber daya laut melimpah. Tanpa sistem pengawetan yang memadai, mata rantai distribusi hasil tangkapan nelayan lokal masih sangat rentan terhadap penurunan kualitas dan fluktuasi harga.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPI Sambaliung, Frederik Sibulo, mengakui bahwa ketiadaan fasilitas pendukung dasar menjadi hambatan utama dalam mengonsolidasikan hasil tangkapan nelayan.

“Kami akui keterbatasan ini menghambat fungsi TPI sebagai pusat distribusi. Saat ini, kami hanya bisa menampung tangkapan tanpa sistem pengawetan yang kompeten karena belum memiliki cold storage dan pabrik es,” ujar Frederik saat dikonfirmasi, beberapa waktu lalu.
Lemahnya Nilai Tawar Nelayan

Absennya sarana pendingin berdampak langsung pada kesejahteraan nelayan. Tanpa ruang penyimpanan, nelayan terpaksa melepas hasil tangkapannya sesegera mungkin guna menghindari pembusukan. Situasi ini membuat posisi tawar nelayan menjadi lemah di hadapan pasar.

“Ikan harus segera dijual dalam waktu singkat. Akibatnya, nilai jual menjadi rendah karena harga terpaksa ditekan mengikuti keterbatasan waktu penyimpanan,” tambah Frederik.

Idealnya, keberadaan pabrik es dan gudang pendingin dapat menjaga kualitas ikan dalam jangka waktu lebih lama. Hal ini memungkinkan nelayan untuk mengatur ritme penjualan dan mendapatkan harga yang lebih kompetitif di pasar yang lebih luas.

Langkah Darurat dan Penataan Pasar

Sebagai langkah antisipasi jangka pendek, pihak UPT berupaya menjaga denyut nadi aktivitas nelayan melalui bantuan teknis berupa pengadaan cool box (kotak pendingin portabel) dan kendaraan roda tiga untuk memperlancar distribusi lokal.

Ke depan, pemerintah daerah berencana melakukan penataan sistem pemasaran satu pintu yang dipusatkan di TPI Tanjung Batu. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pasar yang lebih transparan dan tertata.

“Ke depan, seluruh penjualan hasil laut di wilayah Tanjung Batu akan kami arahkan untuk terpusat di TPI,” tegas Frederik.

Pihaknya menekankan bahwa kekayaan laut yang melimpah adalah modal utama pembangunan ekonomi Berau. Namun, modal tersebut memerlukan dukungan infrastruktur yang mumpuni agar sektor perikanan benar-benar mampu menjadi tulang punggung ekonomi yang berkelanjutan di Bumi Batiwakkal.

(ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.