Mahkota di Atas Tanah Batiwakkal: Baddit Dipattung Menjadi Raja Berau dengan Gelar Aji Surya Nata Kusuma

oleh -9 views
Baddit Dipatung dan Baddit Di Kurindan. foto Prokopim

DI BAWAH langit Lapangan Pemuda Tanjung Redeb, pada Selasa (15/9/2026) denyut nadi sejarah berdegup kencang menyambut peringatan HUT ke-73 Kabupaten Berau dan Kota Tanjung Redeb ke-216. Di hadapan Bupati beserta jajaran, Kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur, para pemuka adat, hingga segenap masyarakat yang tumpah ruah, sebuah pertunjukan kolosal menyihir pandangan.

Sutradara dan penulis naskah Erson Susanto

Pentas kolosal bertajuk “Baddit Dipattung Menjadi Raja Berau dengan Gelar Aji Surya Nata Kusuma” ini digarap dengan penuh jiwa oleh sang sutradara sekaligus penulis naskah, Erson Susanto, bersama sentuhan magis koreografer Titin Surianti melalui sanggar tari Bulpatung.

Sebanyak 105 penari pelajar dari berbagai sekolah di Berau, meski diterpa teriknya matahari, dengan penuh semangat membawakan keindahan tiga rumpun suku utama—Banua, Bajau, dan Dayak (Babada)—dalam balutan warna-warni kostum yang megah serta iringan musik tradisional yang menghentak sukma.

Di balik kemegahan dan riuh tepuk tangan penonton, tersimpan sebuah cerita luhur tentang awal mula berdirinya tampuk kepemimpinan di Tanah Berau.

Pemeran sendratari kolosal sejumlah 105 oranag, usai tampil.

Tujuh Banua yang Damai di Bawah Naungan Adat

Jauh sebelum abad ke-15, jauh sebelum modernitas menyapa Borneo bagian utara, kehidupan masyarakat Berau telah bersemi di tujuh permukiman yang dinamakan Banua. Ketujuh wilayah tersebut meliputi Merancang yang dipimpin Rangga Sari Banua, Pantai di bawah kepemimpinan Rangga Batara, Kuran yang dipimpin Tumenggung Macan Negara, Bulalung dipimpin Angka Yuda, Bunyut dipimpin Jaya Pati, Sewakung dipimpin Kahar Yanggi, serta Lati/Ulak yang dipimpin oleh Inni Barituk.

Meskipun baca tulis belum dikenal dan pengetahuan agama belum luas, tatanan sosial kala itu hidup dalam kedamaian mutlak. Wibawa para kepala adat begitu tinggi; mereka disegani bukan sekadar pemimpin pemerintahan, melainkan juga penjaga keamanan dan panutan spiritual. Patuh dan taatnya masyarakat membuat sengketa seolah tak pernah ada tempat.

Sendratari , Inni dan inda Barituk mengendong bayi Baddit Dipatung dan Baddit DiKurindan
Di Banua Lati, hiduplah Inni Barituk bersama istrinya, Inda Barituk. Inni Barituk dikenal sebagai kepala adat yang adil, bijaksana, serta sangat dicintai rakyatnya. Negeri Lati makmur, hasil bumi dan sawahnya melimpah ruah. Namun, di balik kemakmuran itu, tersimpan mendung dukacita di lubuk hati sang kepala adat. Di usia senja, mereka belum juga dikaruniai seorang anak—penerus darah dan penjaga sejarah keluarga.

Meski demikian, doa dan ikhtiar tak pernah putus. Keyakinan kepada Sang Pencipta menguatkan hari-hari mereka, didampingi doa tulus dari seluruh warga Lati yang menyayangi pemimpin mereka.


Keajaiban di Tengah Rimbunnya Belantara Bambu

Takdir agung bekerja dengan cara yang tak terduga. Suatu hari, Inni Barituk pergi ke hutan mencari kayu bakar ditemani anjing kesayangannya. Langkahnya terbuai oleh sunyinya rimba dan desau angin di antara rumpun bambu yang rapat, hingga ia tak sadar anjing setianya tertinggal jauh di belakang.

Tiba-tiba, sang anjing berhenti dan menyalak-nyalak hebat ke arah semak-semak bambu, menolak beranjak. Penasaran, Inni Barituk mendekat. Alangkah terkejutnya ia tatkala mendengar samar suara tangisan bayi. Di antara rimbunnya bambu, beralaskan sehelai daun dan berselimut tipis menutupi pusarnya, terbaring sesosok bayi laki-laki mungil. Tanpa pikir panjang, niat mencari kayu sirna; dengan penuh sukacita, ia mengangkat bayi itu ke dalam pelukannya. Sang anjing mengekor di belakang, seolah ikut bersorak merayakan kebahagiaan tuannya.


Setengah berlari, Inni Barituk mendekati rumahnya sambil berteriak memanggil sang istri. Inda Barituk keluar dengan rasa cemas dan tegang mendapati suaminya terengah-engah membawa seorang bayi laki-laki. Saat disuruh mengambilkan selembar kain untuk membungkus si kecil, Inda Barituk berlari ke dalam menuju Kurindan—keranjang tempat penyimpanan benang dan jarum jahitnya.

Namun, keajaiban kedua seketika meruntuhkan detak jantungnya. Saat tutup Kurindan dibuka, terbaring pula seorang bayi perempuan yang putih bersih dan jelita di dalamnya! Panen air mata bahagia tumpah seketika. Pasangan suami istri itu saling tatap memeluk dua titipan langit yang datang secara misterius dari tempat yang berbeda.

Musyawarah Tujuh Banua dan Perjanjian Leluhur
Kabar penemuan dua bayi ajaib ini menyebar cepat ke seluruh penjuru banua. Warga dari enam banua tetangga berdatangan ke Lati karena penasaran. Tanpa merisaukan dari rahim siapa mereka dilahirkan, seluruh masyarakat meyakini peristiwa ini adalah mukjizat nyata dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sebagai wujud syukur, pesta adat digelar dengan khidmat. Perwakilan dari ketujuh banua berkumpul mempererat tali persaudaraan. Di tengah kemeriahan itu, dipimpin langsung oleh Inni Barituk, sebuah musyawarah mufakat melahirkan keputusan penting: bayi laki-laki itu dinamakan Baddit Dipattung, dan bayi perempuan dinamakan Baddit Di Kurindan.

Kesepakatan agung pun terukir: kedua anak ini akan dipelihara dan dibesarkan bersama oleh para putri dari kepala-kepala adat ketujuh banua. Lebih dari itu, disepakati pula bahwa kelak ketika dewasa, keduanya akan dinobatkan sebagai pemimpin tertinggi di Tanah Berau.

Lahirnya Sang Raja Pertama Berau
Waktu bergulir cepat hingga delapan belas tahun kemudian. Tepat pada tahun 1400, menepati janji leluhur ketujuh banua, sebuah perhelatan sakral dilangsungkan. Baddit Dipattung dan Baddit Di Kurindan dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan sekaligus dinobatkan sebagai penguasa Berau.


Di bawah restu pemangku adat Inni Barituk dan atas nama rakyat dari tujuh banua, mahkota disematkan. Baddit Dipattung resmi dinobatkan sebagai Raja pertama Berau dengan gelar Aji Surya Nata Kusuma, sementara Baddit Di Kurindam mendampingi sebagai permaisuri bergelar Aji Putri Permaisuri. Pakaian kebesaran dan mahkota dirancang dengan penuh simbol kemegahan dan makna luhur kepemimpinan.

Dari sanalah, di atas tanah Batiwakkal, zuriat kepemimpinan bermula—sebuah Legenda abadi tentang cinta, keajaiban, dan akar budaya yang terus hidup merajut sejarah peradaban Berau hingga hari ini.

(Helda Mildiana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.