55 Suku Berkumpul, Cari Jawaban Bersama untuk Masa Depan Ekonomi Pasca Batubara

oleh -715 views
BERKUMPUL dengan penuh semangat. persaudaraan. foto Toni Arman Dimensinews.id

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Sebuah pertemuan bersejarah terjadi di Kabupaten Berau. Sebanyak 55 suku se-nusantara yang ada di Kabupaten Berau dalam rangka mendukung penyelenggaraan Tujuh Banua Festival pada Sabtu (15/11/2025) di Hotel Mercure, Tanjung Redeb. Pertemuan ini tidak sekadar seremoni budaya, melainkan forum musyawarah untuk mencari solusi keberlanjutan ekonomi Berau. Pertemuan ini juga menghadirkan dua kesultanan di Berau, yakni Adji Raden Muhammad Bakhrun Kesultanan Gunung Tabur dan Datu Amir Raja Muda Perkasa Kesultanan Sambaliung.

Urgensi Menipisnya Sumber Daya Alam
Ketua Panitia sekaligus Inisiator Tujuh Banua Festival, Wagimin, dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menjaga keharmonisan antar suku dan budaya, serta menyatukan niat untuk membangun Kabupaten Berau.

Namun, fokus utama pertemuan tersebut adalah menyikapi kondisi ekonomi Berau di masa depan. Wagimin secara terbuka menyinggung bahwa Kabupaten Berau kini sedang berada di persimpangan sejarah, di mana berkah dari sumber daya alam, khususnya batubara, diprediksi akan habis dalam waktu sembilan tahun ke depan

“Batubara adalah sumber daya yang tidak terbarukan. Dalam sembilan tahun mendatang sumber daya ini akan semakin menipis bahkan bisa habis. Pertanyaannya bagaimana Kabupaten Berau setelah itu, apa yang akan menjadi tumpuan kita ketika sumber daya tidak lagi bisa diadakan?” ujar Wagimin.

Wagimin menegaskan bahwa pertanyaan besar tersebut tidak dapat dijawab oleh satu orang atau satu kelompok saja. Jawaban tersebut harus datang dari semua pihak, yakni 55 suku yang ada di Kabupaten Berau.

“55 suku hari ini berkumpul dengan penuh semangat persaudaraan. Hari ini kita akan berdiskusi, bermusyawarah, dan saling memberikan saran serta ide-ide terbaik untuk kemajuan Berau di masa yang akan datang,” tambahnya.

Ia berharap, forum ini dapat mendengarkan masukan dan saran yang membangun dari setiap suku, paguyuban, dan kelompok masyarakat. Wagimin percaya bahwa “Suara dari setiap suku… sangatlah penting. Karena kita percaya setiap masukan adalah cahaya dan setiap saran adalah jalan menuju perubahan.”

Panggilan Sejarah untuk Menjaga Warisan
Wagimin mengajak semua pihak, mulai dari pemerintah, tokoh adat, ormas, paguyuban, hingga seluruh masyarakat, untuk tidak hanya menjadi penonton pasif ketika sumber daya alam berkurang. Sebaliknya, mereka harus menjadi penggerak perubahan dalam menjaga warisan adat budaya dan lingkungan.

Dari hasil diskusi dan rembukan ini, Wagimin berharap nantinya akan lahir langkah-langkah yang nyata dan konkret yang bisa menjadi pegangan dalam membangun Berau.

“Masa depan perlu dibangun bukan hanya oleh segelintir orang melainkan oleh seluruh anak Banua yang mencintai tanah kelahirannya. Mari jaga laut kita, hutan kita, budaya kita yang ada di Kabupaten Berau, dari sanalah masa depan Kabupaten Berau akan tumbuh,” pungkasnya.

(adv/kom25/ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.