Berau Adopsi Model Ekraf Sukses Yogyakarta

oleh -241 views
GERAI Decomekers di Galeria Mall, sebuah showroom yang menyatukan produk kreatif anggota Forum Mebel Kerajinan dan Seni (Formekers), Yogyakarta. foto dok

* Belajar dari Decomekers dan Desa Wisata Sukunan, Berau Siapkan Pusat Promosi UMKM dan Kolaborasi Pengelolaan Sampah dengan PT PAMA

YOGYAKARTA, DIMENSINEWS – Pemerintah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, gencar mencari formula ampuh untuk memperkuat ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif (ekraf) di tengah strategi daerah bertransisi dari sektor pertambangan. Sebagai langkah konkret, rombongan Disbudpar Berau bersama OPD terkait dan perwakilan perusahaan tambang melakukan benchmarking ke Yogyakarta, daerah yang terbukti sukses dalam kolaborasi ekraf terpadu.

Pada Jumat (5/12/2025), sebanyak 25 anggota rombongan Berau menyambangi Gerai Decomekers di Galeria Mall, sebuah showroom yang menyatukan produk kreatif anggota Forum Mebel Kerajinan dan Seni (Formekers).

Rombongan, yang dipimpin oleh Nurjatiah, Kabid Usaha Jasa Sarana Pariwisata dan Ekraf Disbudpar Berau, mengaku terkesima dengan model pemasaran terpadu yang diterapkan Formekers.

“Di gerai ini, begitu banyak pelaku ekonomi kreatif dapat disatukan dalam satu ruang untuk menampilkan karya yang tidak hanya dipasarkan di Indonesia, tapi juga menembus luar negeri. Ini adalah model kolaborasi dan pemasaran yang ingin kami adopsi di Berau,” ungkap Nurjatiah.


Mengubah Sampah Jadi Rupiah

Selain belajar pemasaran produk, rombongan Berau juga fokus pada isu krusial: pengelolaan sampah di destinasi wisata. Mereka mengunjungi Desa Wisata Sukunan di Sleman, Yogyakarta, yang tersohor karena inovasi pengelolaan sampah mandiri yang berhasil mengubah sampah menjadi produk bernilai guna sekaligus meraup pundi-pundi rupiah.

Kunjungan ke Sukunan ini sengaja melibatkan langsung pengelola wisata, seperti Heberly, Kepala Kampung Biatan, dan pengelola wisata air panas Berau.

“Masalah utama saat liburan dan banyaknya pengunjung adalah sampah. Karena itu, kami membawa langsung perwakilan Kampung Biatan agar dapat menularkan wawasan ini dan mewujudkan destinasi pariwisata yang bersih dan sehat,” jelas Nurjatiah.

Menariknya, rombongan benchmarking ini juga melibatkan perwakilan dari PT Pamapersada Nusantara (PAMA), salah satu kontraktor pertambangan terbesar di Indonesia, sebagai mitra strategis.

“PT PAMA berkomitmen akan berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk melakukan pembinaan kepada kampung dalam pengelolaan dan pemanfaatan sampah,” tegas perwakilan PAMA, menunjukkan sinergi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta (perusahaan tambang).

ROMBONGAN Berau juga fokus pada isu krusial: pengelolaan sampah di destinasi wisata. Mereka mengunjungi Desa Wisata Sukunan di Sleman, Yogyakarta, yang tersohor karena inovasi pengelolaan sampah mandiri yang berhasil mengubah sampah menjadi produk bernilai guna sekaligus meraup pundi-pundi rupiah. foto dok Disbudpar Berau

Kominfo Dorong Sinergi Lintas OPD

Sekretaris Dinas Kominfo Berau, Ida Rugayah, yang turut dalam rombongan, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas OPD untuk memperkuat hasil pembelajaran ini.

“Kami ingin Berau semakin maju, baik dalam pengembangan UMKM maupun inovasi pengelolaan sampah. Setelah melihat contoh nyata di sini, program kolaborasi dengan OPD lain seperti Perindagkop dan DLHK menjadi kunci penting untuk eksekusi di lapangan,” ujarnya.

Kepala Kampung Biatan, Heberly, optimis bahwa wawasan dari Yogyakarta akan menjadi modal penting bagi pengembangan potensi kampungnya.

Melalui kunjungan ini, Pemkab Berau semakin mantap mengejar mimpi menghadirkan pusat promosi UMKM seperti Decomekers sebagai simbol kebangkitan ekonomi kreatif. Pariwisata, dengan Derawan sebagai magnet utamanya, diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi yang mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Upaya memperkuat ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif (ekraf) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, terus digencarkan. Sebagai tindak lanjut Rapat Koordinasi Ekonomi Kreatif, diperlukan langkah strategis berupa benchmarking ke daerah yang telah terbukti sukses menciptakan kolaborasi terpadu. Yogyakarta pun dipilih sebagai destinasi pembelajaran yang tepat.

(adv/kom25/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.