Kinerja Penurunan Stunting Berau Paling Buncit di Kaltim

oleh -1,643 views
Wabup Gamalis

• Wabup Gamalis Akui TPPS Berjalan Lambat, Terkendala Data dan Sinergi Lintas Sektor

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Meskipun mencatat kenaikan skor kinerja, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Berau menempati posisi terbawah (peringkat ke-10) dari sepuluh kabupaten dan kota se-Kalimantan Timur dalam penilaian aksi konvergensi percepatan penurunan stunting.

Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi Capaian Aksi Konvergensi TPPS Berau yang digelar pada Kamis (11/12/2025) kemarin di ruang rapat RPJPD Bapelitbang, Tanjung Redeb.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, selaku Ketua TPPS Kabupaten Berau, menyatakan bahwa posisi ini menjadi evaluasi besar bagi seluruh pihak. Berau hanya menempati urutan ke-10, meski berhasil meraih skor yang cukup baik, yakni 94.

“Penurunan stunting tidak hanya bertumpu pada penanganan medis, melainkan juga menyangkut kondisi sosial, lingkungan, hingga sinergi lintas sektor,” ujar Gamalis.

Gamalis menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Pemkab Berau adalah kesulitan dalam memastikan sumber data stunting, terutama setelah adanya perubahan nomenklatur serta belum terbitnya Definisi Operasional (DO) yang jelas.

“Basis data kita belum bisa dipastikan, apakah itu berasal dari Puskesmas, Capil, Kecamatan, atau Lurah. Ini adalah tantangan besar,” jelasnya.

Kondisi tersebut mengharuskan Pemkab Berau segera mengevaluasi sistem pengumpulan data tahun-tahun sebelumnya dan memperbaiki mekanisme pelaporan untuk tahun 2026.

Skor Meningkat, Peringkat Menurun
Meskipun peringkatnya menurun, Gamalis menegaskan bahwa nilai kinerja Berau sebetulnya menunjukkan peningkatan agresif selama tiga tahun terakhir:
• 2023: Skor 55 (Peringkat 9)
• 2024: Skor 88 (Peringkat 7)
• 2025: Skor 94 (Peringkat 10)

“Nilai kita terus agresif naik, dari 55, 88 hingga 94. Tetapi ranking kita turun ke 10. Ini bukan berarti kinerja kita buruk, melainkan kabupaten lain bergerak jauh lebih cepat dan sudah sangat baik, menyebabkan peringkat Berau menurun,” ungkapnya. Penurunan peringkat ini mengindikasikan semakin ketatnya persaingan kinerja di antara kabupaten/kota di Kaltim.

Fokus Perbaikan: Input Data dan Pelatihan Operator

Wabup Gamalis menyimpulkan bahwa persoalan utama terletak pada pengelolaan data. “Pekerjaan lapangan kita sudah bagus, tapi input data kita masih kurang. Sinergi lintas sektor juga masih belum optimal,” katanya.

Dengan nomenklatur baru, peran utama penanganan stunting kini berada pada tiga unsur: Camat, Puskesmas, serta Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), yang masing-masing memiliki operator.

“Operator inilah yang hari ini kita lakukan pelatihan, supaya dapat menginput semua data lebih rapi dan terkoordinasi. Apalagi stunting saat ini sudah ditangani langsung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri), yang biasanya lebih ketat,” pungkasnya.

(ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.