Putri Arofah, Penjaga Budaya Berau Lewat Goresan Batik

oleh -1,404 views
PUTRI Arofah owner Putri Maluang Batik ketika Dekranasda Expo 2025 pada Nopember 2025 kemarin. foto Helda Mildiana Dimensinews.id

* Membangun Putri Maluang Batik dari Kampung, Menginspirasi Pemberdayaan dan Meraih Omzet Ratusan Juta

DARI sebuah kampung bernama Maluang, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau lahir sebuah karya yang merepresentasikan pesona budaya Indonesia dalam sehelai kain batik. Dialah Putri Arofah, perempuan inspiratif yang menjadikan masa pandemi sebagai titik awal lahirnya Putri Maluang Batik, sebuah brand lokal yang kini dikenal hingga ke kancah nasional.

Bermula dari keisengan saat isolasi mandiri COVID-19 di tahun 2020, Putri memulai aktivitas membatik hanya untuk mengisi waktu. Namun siapa sangka, satu unggahan sederhana di media sosial mengubah segalanya. Produk pertamanya terjual, dan itu menjadi pemantik semangat untuk terus berkarya.

“Dari awalnya coba-coba, lalu ada yang beli. Dari situ kami produksi terus. Kini sudah punya gerai dan tempat produksi sendiri,” kenang Putri sambil tersenyum.

Putri Arofah, ketika menerima bantuan sapras dari Bank Indonesia pada acara Kaltim Paradise of the east, di Samarinda tahun 2025. foto dok Putri Maluang Batik

Visi Pelestarian dan Pemberdayaan Lokal
Putri Maluang Batik resmi didirikan pada tahun 2020 sebagai ruang kreatif. Visi utamanya adalah menjadi rumah pelestarian budaya Berau melalui media batik yang berkualitas, berkarakter, dan bernilai sejarah. Salah satu misi terpentingnya adalah memberdayakan pengrajin lokal, terutama ibu-ibu rumah tangga dari sekitar kampung, yang kini berjumlah lebih dari 10 orang.

Mereka bekerja bersama memproduksi batik dengan pewarna alami dari limbah kayu ulin, daun ketapang, dan berbagai bahan dari alam sekitar, menjadikan usaha ini ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Mengapa harus Batik Berau? Putri menjelaskan bahwa motif lokal adalah jiwa dari setiap lembar batik. “Kami ingin melestarikan warisan budaya bangsa. Dalam satu motif ada filosofi, sejarah, dan identitas masyarakat Berau yang tidak bisa direplikasi. Kekhasan inilah yang menjadi nilai jual dan pembeda,” tegas Putri.

Goresan Cerita Cinta dari Alam Berau
Putri menyebut filosofi di balik karyanya sebagai “Goresan Cerita Cinta”. Inspirasi motif utama didapatkan dari penelitian budaya lokal. Ia banyak berdiskusi dengan para tetua adat, budayawan, serta mempelajari simbol-simbol tradisi Dayak. Selain itu, inspirasi datang dari dokumentasi visual alam Berau—seperti Rutun, Penyu, mangrove, flora-fauna pesisir, hingga simbol-simbol kerajaan Berau.

Salah satu motif favorit dan paling berkesan bagi Putri adalah motif sungai. “Sungai melambangkan kesabaran, pasang surut kehidupan, keberlanjutan, dan hubungan manusia dengan alam. Setiap kali membuat batik motif ini, saya selalu teringat bahwa batik bukan hanya seni, tetapi juga pengingat untuk menjaga ekosistem daerah kita,” ujarnya.

Tak tanggung-tanggung, lebih dari 20 motif yang lahir dari tangan Putri Maluang Batik telah memiliki Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), dari total lebih dari 800 motif yang telah diproduksi.

Strategi Menembus Pasar Modern
Untuk menjaga batik Berau tetap relevan di tengah gempuran produk tekstil modern, Putri menggabungkan desain tradisional dengan teknik modern, seperti variasi warna kontemporer, pengembangan pola yang lebih minimalis, serta memanfaatkan media sosial sebagai etalase digital.

“Prinsipnya: motif tetap lokal, cara penyampaian dan gaya tetap mengikuti perkembangan zaman,” katanya.

Pencapaian Putri Maluang Batik terbilang gemilang. Batik karya mereka pernah tampil dalam ajang Fashion Syariah Indonesia (Fasyar) di Jakarta Convention Center (JCC) dan digunakan dalam Pemilihan Duta Wisata Nasional. “Pencapaian terbesar bagi saya pribadi adalah melihat semakin banyak generasi muda Berau yang bangga memakai batik daerahnya sendiri,” aku Putri.
Dibina oleh Bank Indonesia Perwakilan Kaltim, Putri rutin mengikuti kurasi dan pendampingan. Dengan tiga jenis produksi utama (batik tulis, batik cap, dan batik print), usaha ini mampu memproduksi hingga 700 lembar batik per bulan saat pesanan tinggi, dengan omzet mencapai Rp100 juta per bulan. Kainnya dijual mulai Rp200 ribu hingga Rp1,5 juta.

Perjalanan sukses ini dimulai dari pengorbanan kecil. Modal awal Putri hanyalah Rp3 juta hasil menjual cincin pernikahan.

“Awalnya saya jual cincin buat modal beli kain dan pewarna. Sekarang usaha ini bisa menghidupi banyak orang,” tutup ibu tiga anak ini dengan penuh rasa syukur.

Putri Maluang Batik bukan sekadar kain bermotif. Ia adalah warisan budaya, karya seni, dan wujud cinta pada tanah kelahiran yang dikemas dalam lembar-lembar penuh makna. Dari Berau, untuk Indonesia, dan dunia.

Helda Mildiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.