Mengubah Kegelisahan Menjadi Peluang: Mochammad Shodik dan Batik Mosho, Kebanggaan Kriya Berau

oleh -199 views
Mochammad Shodik di Galeri Batik Mosho, jalan di Jl. Sejahtera 2 No. 14, Kelurahan Gunung Panjang, Tanjung Redeb. foto ist

DI TENGAH kepungan batik industri dari Pulau Jawa, muncul sehelai kain yang lantang menuturkan kisah laut dan hutan Kalimantan Timur. Kain itu adalah Batik Mosho, hasil kreasi Mochammad Shodik, seorang pembatik yang berani merintis batik tulis otentik di Kabupaten Berau.

Dari modal awal Rp500 ribu dan dilanda kegelisahan sebagai pekerja honorer, kini Shodik sukses membangun galeri Mosho Batik di Jl. Sejahtera 2 No. 14, Kelurahan Gunung Panjang, Tanjung Redeb, dan mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan.

Berawal dari Kegelisahan dan Lomba Cipta Motif
Mochammad Shodik bukanlah orang sembarangan dalam urusan tekstil. Ia adalah lulusan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung, jurusan Teknis Tekstil. Berbekal ilmu tersebut dan kesukaan pada desain dan menggambar, Shodik melihat celah usaha yang belum tergarap di Berau.

“Awal berdirinya Batik Mosho karena adanya kegelisahan, namanya kerja honorer ya begitu, sementara kebutuhan ekonomi terus mendesak,” kata Shodik.

Titik baliknya datang pada tahun 2018 ketika ia membaca brosur Lomba Cipta Motif Batik Berau. Shodik melihat ini sebagai kesempatan untuk mengasah kemampuannya. Ia menyadari bahwa mayoritas batik yang beredar di Berau adalah batik cap.

Berangkat dari celah itulah, ia memutuskan membuat batik tulis pertama di Berau untuk Modal awal Rp500 ribu itu buat beli kompor listrik, canting tulis, kain 2 meter, lilin malam batik, dan pewarna batik kemasan kecil,” kenang Shodik.

Usaha Batik Mosho didirikan pada tahun 2019, bertepatan dengan masa pandemi COVID-19. Meskipun tantangan ekonomi melanda, masa ini justru membuat Shodik lebih tekun mendalami proses pembatikan. Ia juga memperdalam ilmunya melalui Balai Besar Kerajinan Batik dan mengikuti kompetensi BNSP skema pewarnaan pembatik pada tahun 2020, yang memberinya kepercayaan diri untuk meningkatkan kualitas produknya agar tidak mudah luntur dan tahan lama.

Shodik juga memberikan pelatihan membatik di Kelurahan dan Kampung di Kabupaten Berau. foto ist


Omzet Puluhan Juta, Kualitas Batik Tulis Unggulan

Dari produksi rumahan, kini Batik Mosho mampu meraup omzet antara Rp30 juta hingga Rp50 juta per bulan. Produk Mosho telah merambah luar daerah, bahkan pernah dipesan untuk acara dan pameran tingkat nasional dan internasional, termasuk di Finlandia dan Cina.

Mosho memproduksi batik tulis, batik cap, dan kombinasi. Batik tulis Mosho dihargai mahal, sekitar Rp700.000 hingga Rp1.500.000 per helai, karena proses pengerjaannya yang panjang dan memerlukan skill mumpuni. Namun, untuk menjangkau semua kalangan, Mosho juga menyediakan batik cap yang harganya lebih terjangkau.

Motif yang paling banyak dipesan adalah Penyu, yang merupakan simbol Bumi Batiwakkal dan ikon perairan Pulau Derawan.

Motif-motif Batik Mosho lahir dari kekayaan alam dan budaya Berau, menjadikannya unik dan tidak dapat ditemukan di Pulau Jawa. Motif unggulan Mosho meliputi: Penyu (ikon Derawan), Penyu Pandurata (penyu karang dengan ukiran Dayak), Rotan dari Talisayan (menggambarkan kekayaan hutan), Ikan Pari Manta dan Hiu Tutul, Flora Khas Borneo seperti Anggrek Hitam dan Kantong Semar.

Shodik menjelaskan, karena ia berasal di luar Pulau Jawa, ia sengaja memunculkan motif-motif yang memiliki identitas khusus Borneo.

Nama Mosho sendiri memiliki filosofi: Mo (Modern) dan Sho (dari bahasa Jepang, yang berarti melegit/terbang tinggi). Harapannya, karya batik ini modern, diterima luas, dan membawa perubahan ekonomi bagi dirinya dan para pengrajin.

Keunikan lain dari Mosho adalah penggunaan pewarna. Sebagian warna berasal dari bahan alami seperti ulin, jati, secang, dan mahoni, sementara sisanya menggunakan pewarna sintetis berkualitas untuk menghasilkan warna yang kuat dan tahan lama.

Keunikan lain dari Mosho adalah penggunaan pewarna. Sebagian warna berasal dari bahan alami seperti ulin, jati, secang sementara sisanya menggunakan pewarna sintetis berkualitas.

Tantangan, Edukasi, dan Dukungan Pemerintah
Meskipun sukses, Shodik menghadapi dua tantangan utama, yakni Bahan Baku, 100% bahan baku masih didatangkan dari Pulau Jawa, sehingga harga tidak bisa bersaing dengan produk di Jawa.

Tantangan yang kedua adalah 0SDM (Sumber Daya Manusia), sebut Shodik sulitnya mencari tenaga kerja di Kalimantan Timur yang memiliki skill membatik dan jiwa seni. Kendala ini sering membuat Mosho kesulitan mengejar deadline, jika ada pesanan dengan jumlah banyak.

Menghadapi tantangan SDM, Shodik tidak patah semangat. Ia terus berupaya menciptakan motif baru, menawarkan layanan ‘Request by Motif’ di mana pelanggan dapat mewujudkan desain keinginan mereka dalam selembar batik. “Pesan satu lembar pun kami terima,” katanya sambil tersenyum.

Selain berbisnis, Shodik juga berpegang pada misi edukasi. “Kami sebetulnya lebih kepada mengedukasi kepada pelanggan bahwa batik sebenarnya itu seperti ini,” ujar di Galeri Batik Mosho Jalan Sejahtera 2 No. 14 Kelurahan Gunung Panjang Tanjung.

Batik Mosho juga aktif dalam kegiatan sosial, seperti memberikan pelatihan membatik untuk ibu-ibu yang tidak memiliki pekerjaan, dengan harapan dapat meningkatkan perekonomian keluarga sekaligus memperkenalkan tradisi dan budaya daerah Berau.

Dukungan dari pemerintah daerah, terutama melalui Diskoperindag dan Dekranasda Berau dan Provinsi Kaltim, sangat membantu promosi Mosho, baik dalam pameran seperti Inacraft pameran kerajinan tangan terbesar di Asia Tenggara di Jakarta Convention Center (JCC) yaitu pada 5-9 Februari 2025 lalu. Serta pameran lain yang diikuti oleh Pemkab Berau.

“Dengan membatik ini, disamping bisa meningkatkan perekonomian keluarga, juga bisa memperkenalkan identitas, tradisi, budaya daerah kita ke masyarakat yang lebih luas,” tutup Shodik.


Helda Mildiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.