Hadapi Era AI dan VUCA, ASN Kemenag Berau Dituntut Lincah dan Kuasai Teknologi Agama

oleh -115 views
Upacara Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 tahun 2026. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau turut memperingati hari besar ini di Halaman Kantor Kemenag, Jalan Diponegoro Tanjung Redeb, Sabtu (3/1/2026). foto Toni Arman Dimensinews.id

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia menggelar Upacara Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 tahun 2026. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau turut memperingati hari besar ini di Halaman Kantor Kemenag, Jalan Diponegoro Tanjung Redeb, Sabtu (3/1/2026).

Dalam amanat Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, yang dibacakan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Berau, M. Hendratno, ditekankan bahwa peringatan HAB bukan sekadar refleksi, melainkan momentum penting untuk memperkuat komitmen Kemenag dalam merawat kerukunan dan menghadirkan manfaat nyata bagi umat di tengah perubahan zaman yang masif.

Menag mengingatkan bahwa eksistensi Kemenag adalah kebutuhan nyata bangsa yang majemuk dan dibangun dari sinergi seluruh komponen bangsa.

Kedaulatan AI dan Tantangan Era VUCA
Sorotan utama dalam amanat Menteri Agama adalah kesiapan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag dalam menghadapi tantangan era modern, terutama Artificial Intelligence (AI) dan Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity).

Menag menegaskan, ASN Kemenag tidak boleh hanya menjadi penonton, melainkan harus memiliki kedaulatan AI.

“Kita harus memastikan bahwa algoritma masa depan tidak hampa dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. AI harus kita kawal agar menjadi alat pemersatu dan penguat kerukunan, bukan pemicu disinformasi dan perpecahan,” sebutnya.

Untuk itu, ASN di lingkup Kemenag dituntut mampu mewarnai substansi AI dengan konten keagamaan yang otoritatif, valid, moderat, sejuk, dan mencerahkan.

Transformasi ASN: Agile, Adaptif, dan Responsif

Untuk mewujudkan visi besar ini, setiap ASN Kementerian Agama dituntut bertransformasi menjadi pribadi yang ‘agile’ (lincah dan sigap), adaptif terhadap teknologi dan inovasi, serta responsif dalam melayani kebutuhan umat dengan empati dan integritas.

“Nilai-nilai ini sejatinya bukan hal baru, melainkan warisan luhur tradisi keagamaan yang perlu kita aktualkan kembali dalam konteks zaman,” tegasnya.

Selain menghadapi tantangan teknologi, Menag menyoroti peran strategis Kemenag sebagai penjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan melalui berbagai program yang telah berdampak nyata, seperti:

1. Penguatan Pendidikan Keagamaan: Madrasah, sekolah keagamaan, dan perguruan tinggi keagamaan kini sejajar bahkan melebihi standar pendidikan lain.
2. Pemberdayaan Ekonomi Umat: Melalui optimalisasi zakat, wakaf, infak, sedekah, dan dana keagamaan lain, yang mendorong kemandirian lembaga dan penggerak ekonomi masyarakat.
3. Pengembangan Kerukunan: Melalui program Desa Sadar Kerukunan, memindahkan wacana kerukunan ke praktik nyata di tengah masyarakat.

Menag menutup amanatnya dengan menekankan bahwa setiap langkah dan kebijakan Kementerian Agama harus menghasilkan manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat, melampaui sekadar urusan administratif dan birokrasi.

(ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.