Estetika Museum Gunung Tabur Terusik Panggung Acara, Disbudpar Berau Ingatkan Aturan Cagar Budaya

oleh -45 views
Panggung kegiatan pasar Barambang. foto dok

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Keberadaan panggung bekas kegiatan “Pasar Barambang” di halaman Museum Gunung Tabur sempat menuai sorotan masyarakat. Pasalnya, struktur bangunan semi-permanen tersebut dinilai mengganggu estetika dan keindahan museum yang merupakan salah satu situs sejarah ikonik di Kabupaten Berau.

Merespons hal tersebut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menegaskan bahwa meski mendukung penuh aktivitas ekonomi kreatif, setiap kegiatan di kawasan wisata wajib mematuhi regulasi yang berlaku.

Kronologi Pelanggaran Prosedur

Kepala Bidang Bina Usaha Jasa Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Berau, Nurjatiah, menjelaskan bahwa terdapat ketidaksesuaian prosedur dalam pembangunan panggung tersebut.

Pihak pengelola mengajukan izin pada 15 Januari untuk kegiatan tanggal 17-24 Januari. Namun, panggung sudah berdiri sebelum surat balasan resmi diterbitkan.

“Kami tidak menghalangi kegiatan. Namun, Museum Batiwakkal adalah cagar budaya. Ada poin ketentuan yang harus dipatuhi, termasuk kewajiban mensterilkan lokasi setelah kegiatan berakhir,” tegas Nurjatiah.


Pendekatan Persuasif dan Estetika

Meski kegiatan telah berakhir pada 24 Januari, panggung tersebut tidak segera dibongkar. Disbudpar pun melakukan langkah persuasif agar pengelola pasar segera mengosongkan area halaman museum.

Beberapa poin utama yang ditekankan oleh Disbudpar antara lain:

Penilaian Cagar Budaya: Museum rutin dipantau oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

Faktor Estetika: Keberadaan panggung yang menetap dianggap mengurangi kenyamanan pandangan terhadap situs bersejarah.

Fungsi Utama: Area museum harus tetap steril agar nilai historisnya tidak tertutup oleh aktivitas komersial yang berkepanjangan.

Saat ini, area museum dilaporkan telah kembali steril setelah pihak pengelola menerima masukan dan melakukan pembongkaran mandiri.

Nurjatiah kembali menegaskan bahwa Disbudpar tetap mendukung penuh pengembangan UMKM dan upaya meramaikan objek wisata. Namun, ia memberi catatan penting bagi seluruh penyelenggara acara di masa depan.

“Pemanfaatan ruang di kawasan museum harus melalui koordinasi dan perencanaan matang. Jangan sampai kegiatan tersebut justru mengubah citra utama museum sebagai situs bersejarah,” pungkasnya.

(ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.