Lawan Perundungan Lewat Layar Lebar: Rabba Rimpa Bahari Siap Rilis Film “Karung Gandum” di Cineplex

oleh -15 views
Film berjudul Karung Gandum, hadir dengan narasi sosial yang menyentuh dan berakar kuat pada realita masa lalu di Bumi Batiwakkal.

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Geliat industri film lokal di Kabupaten Berau semakin menunjukkan taringnya. Kelompok kreatif anak muda yang tergabung dalam Rabba Rimpa Bahari kembali membuktikan eksistensinya dengan meluncurkan karya terbaru bertajuk Karung Gandum. Film ini dijadwalkan segera menyapa penonton di Cinema Complex (Cineplex) dalam waktu dekat.

Berbeda dengan tren film horor yang menjamur, Karung Gandum hadir dengan narasi sosial yang menyentuh dan berakar kuat pada realita masa lalu di Bumi Batiwakkal.

Kisah Nyata di Balik Seragam Karung

Sutradara film, Yayan, mengungkapkan bahwa inspirasi film ini lahir dari memori masa sekolahnya dulu. Tokoh utama dalam film ini adalah seorang siswi berusia tujuh tahun yang terhimpit kemiskinan ekstrem. Begitu sulitnya kondisi ekonomi keluarga, hingga karung gandum pun terpaksa dialihfungsikan menjadi seragam sekolah.

“Ini adalah referensi dari apa yang kami alami dan saksikan sendiri dulu. Pernah terjadi di sekolah kami, seorang anak tidak mampu hingga hanya karung gandum yang bisa dijadikan seragam. Realita pahit inilah yang saya angkat ke layar lebar,” ujar Yayan.


Misi Melawan Bullying di Sekolah

Lebih dari sekadar tontonan, Karung Gandum membawa misi moral yang mendalam. Yayan berharap film ini menjadi refleksi bagi masyarakat, khususnya bagi para pelajar dan tenaga pendidik, tentang dampak buruk perundungan (bullying).

“Kami ingin menyampaikan pesan agar tidak ada lagi tindakan yang menyakiti hati sesama di lingkungan sekolah. Intinya, penonton harus melihat sendiri bagaimana perjuangan tokoh ini nanti di Cineplex,” tambahnya.


Menuju Panggung Nasional: Dari Sejarah ke Horor

Setelah sukses memproduksi Panjat dan Kampung Padai, Rabba Rimpa Bahari tidak berhenti di sini. Yayan membocorkan proyek ambisius mereka selanjutnya, yakni sebuah film horor berjudul Bungkang.

Berbeda dengan karya-karya sebelumnya, Bungkang ditargetkan untuk menembus pasar nasional dan tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Langkah ini diambil sebagai upaya memperkenalkan budaya dan sejarah Berau ke kancah yang lebih luas.

“Pesan saya kepada masyarakat: jangan lupakan sejarah. Jika sejarah hanya diceritakan lewat mulut ke mulut, lama-lama akan dianggap mitos. Melalui film, kita mengabadikan peristiwa agar generasi mendatang tahu apa yang pernah terjadi di daerah kita,” pungkas Yayan.

(ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.