Sasar Kemandirian Desa, DPRD Berau Pacu Optimalisasi Lahan Kelapa Dalam

oleh -1,355 views
Wakil Ketua Komisi II DPRD) Kabupaten Berau, Arman Nofriansyah.

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Berau kini tengah membidik penguatan ekonomi dari sektor hilir melalui optimalisasi aset desa. Langkah ini diambil sebagai strategi menghadapi efisiensi anggaran dengan memacu setiap kampung untuk menciptakan sumber Pendapatan Asli Kampung (PAK) yang baru.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Berau, Arman Nofriansyah, menegaskan bahwa potensi besar kini terbuka lebar melalui bantuan bibit kelapa dalam (Cocos nucifera) dan kakao (theobroma cacao) dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Ia meminta pemerintah kampung, khususnya yang memiliki potensi lahan, untuk tidak menyia-nyiakan peluang emas tersebut.

“Harapannya, kampung yang punya aset lahan bertanam kelapa bisa segera memanfaatkan bantuan ini. Kelapa saat ini sedang menjadi primadona pasar, baik varietas kelapa dalam maupun luar,” ujar Arman baru baru ini.

Optimalisasi Lahan 200 Hektare
Kabupaten Berau mencatat kuota bantuan dari Kementan mencapai luasan kurang lebih 200 hektare. Arman menunjuk Kampung Pulau Besing sebagai salah satu contoh wilayah yang memiliki lokasi strategis dan lahan kampung yang sangat mumpuni untuk pengembangan komoditas tersebut.

Menurutnya, komoditas kelapa memiliki nilai ekonomis yang stabil. Di luar musim puncak seperti Ramadan, harga di tingkat penampung konsisten di angka Rp6.000 hingga Rp7.000 per buah.

“Jika kita mulai menanam secara masif sekarang, dalam tiga tahun ke depan kampung-kampung di Berau bisa mandiri secara finansial melalui hasil kelapa, bahkan bisa berkembang ke industri kopra,” imbuhnya.

Arman juga memacu para Kepala Kampung untuk lebih progresif dalam menangkap peluang bantuan bibit kakao dan kelapa ini. Apalagi, varietas yang ditawarkan memiliki karakteristik unggul dengan masa tunggu panen yang relatif singkat.

“Tolong teman-teman di kampung tangkap peluang ini. Pohonnya tidak tinggi sehingga mudah dirawat, buahnya besar-besar, dan hanya dalam tiga tahun sudah bisa berbuah. Ini adalah fondasi kuat untuk pendapatan asli kampung di masa depan,” pungkas Arman.

(adv/dprd26/ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.