Skill Mata Begadang dan Lem Tembak: Rahasia di Balik 1.000 Parsel Rumah Aulia

oleh -1,026 views
Yulianita Salman bersama konsumen yang sedang memilih parcel. foto dok

Di kawasan Jalan Kedaung, pemandangan rutin setiap menjelang lebaran selalu sama, ratusan keranjang rotan bertumpuk, gulungan pita warna-warni berserakan, dan aroma khas lem tembak yang memenuhi ruangan. Di sinilah Yulianita Salman dan suaminya, Budi bersama anak menantunya, menjalankan “ritual” tahunan mereka yang penuh peluh namun bermakna.

Rumah Parsel Aulia, begitu mereka menyebutnya. Nama yang diambil dari putri sulung mereka ini bukan sekadar bisnis musiman, melainkan wujud dedikasi sebuah keluarga yang rela menukar waktu tidur dengan kreativitas tangan

Berawal dari Harga yang “Mencekik”
Kisah ini dimulai lima tahun lalu. Yuli, yang terbiasa dengan tradisi saling berkirim hantaran saat masih tinggal di Samarinda, merasa kaget dengan harga parsel di Kabupaten Berau yang tergolong tinggi.

“Dulu sering berbagi, nah saat pindah ke Berau semua serba mahal. Akhirnya kami putuskan bikin sendiri saja,” kenang Yuli.
Siapa sangka, parsel buatan tangan Yuli dan Budi yang awalnya hanya untuk kolega pribadi, justru menarik perhatian banyak orang. Pesanan mulai mengalir, hingga kini bisnis ini telah merambah jauh keluar daerah. Tak hanya memenuhi sudut-sudut Bumi Batiwakkal, kreativitas Rumah Parcel Aulia kini telah melintasi batas kabupaten hingga ke Bulungan dan Nunukan


Proses pengemasan parsel Yulianita Salman bersama keluarga

Komitmen Manis: Seribu Rotan dari Amuntai
Ada komitmen unik yang dijaga ketat oleh Yuli: mempertahankan nuansa tradisional. Di tengah tren kotak kado (hampers) modern yang minimalis, ia justru memilih kembali ke akar budaya. Yuli memesan 1.000 buah keranjang rotan langsung dari pengrajin di Amuntai, Kalimantan Selatan.

Bagi Yuli, anyaman rotan bukan sekadar wadah, melainkan sebuah identitas dan kebanggaan sebagai bagian dari pengurus Bidang Wanita Bubuhan Banjar Berau. Tekstur rotan yang khas memberikan kesan hangat dan personal, sesuatu yang menurutnya tidak bisa digantikan oleh kemasan pabrikan manapun.

Ibadah, Kekeluargaan, dan Tantangan Listrik
Satu hal yang membuat usaha ini terasa hangat adalah keterlibatan seluruh anggota keluarga. Yuli dan Budi sangat konsisten menjaga ritme kerja mereka selama Ramadhan. Setelah menunaikan ibadah Shalat Tarawih, seisi rumah langsung berubah menjadi tim produksi yang solid. Di saat orang lain mulai beristirahat, keluarga ini justru mulai berjibaku dengan tumpukan barang hingga dini hari.

Namun, mengemas seribu parsel bukan tanpa kendala. “Momen paling panik itu kalau mati lampu,” cetus Yuli. Karena pengerjaan sangat bergantung pada lem tembak bertenaga listrik, pemadaman lampu seketika menghentikan ritme kerja mereka. Di tengah kejaran deadline lebaran, menunggu listrik menyala menjadi ujian kesabaran yang luar biasa.

Belum lagi urusan fisik. Yuli menyebut bisnis ini sebagai ujian “skill mata begadang”. Menjelang hari H, hampir tidak ada waktu untuk memejamkan mata. Seluruh isi rumah dikerahkan, mulai dari suami hingga anak-anak, semuanya bahu-membahu menjadi tim produksi dadakan yang tetap konsisten meski raga mulai lelah.

Di balik kesibukan itu, ada rasa haru yang sering menyelinap. Yuli bercerita bahwa ia sering tersenyum sendiri saat membaca kartu ucapan yang dipesan pelanggan. Kartu-kartu itu berisi doa, maaf yang tulus, hingga pesan pribadi yang menyentuh hati.
“Parsel ini adalah media penyambung silaturahmi. Tahun ini banyak yang menitipkan parcel karena mereka pulang kampung duluan. Melihat senyuman bahagia penerimanya saat paket diantar dengan mobil terbuka kami, itu kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan,” ungkapnya lirih.

Aneka parsel, mulai yang mungil hingga yang tinggi, di rumah parcel Aulia, dengan harga bervariasi. foto dok

Dukungan dan Harapan
Meski persaingan di Berau semakin kompetitif, Yuli merasa bersyukur karena ekosistem pengrajin di Bumi Batiwakkal sangat sehat. Dukungan dari Pemerintah Daerah, termasuk Bupati Berau dan pihak perbankan, semakin menguatkan langkah Rumah Parsel Aulia.

Bagi Yuli, setiap parsel yang keluar dari pintunya bukan sekadar barang dagangan. Di dalam lilitan pita dan anyaman rotan Amuntai itu, terselip doa yang selalu ia aminkan: “Selamat merayakan hari kemenangan, semoga Allah menerima amal ibadah kita.”

Satu kalimat yang tulus, dibungkus dengan kerja keras sepasang suami istri yang percaya bahwa silaturahmi harus tetap terjaga, meski harus ditebus dengan mata yang memerah karena begadang setelah sujud di malam-alam Ramadhan.

Helda Mildiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.