Menghidupkan Ruh “Manusia Laut”, DPRD Berau Suarakan Pembangunan Rumah Adat Bajau di Atas Air

oleh -22 views
Liliansyah

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Keaslian budaya Suku Bajau di Kabupaten Berau kini menjadi sorotan utama legislatif. Ketua Komisi III DPRD Berau, Liliansyah, melontarkan gagasan krusial: Rumah Adat Bajau harus berdiri tegak di atas hamparan laut, bukan di daratan. Langkah ini diambil untuk memastikan denyut nadi tradisi suku “pengembara laut” tersebut tetap otentik.

Usulan ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya mengembalikan marwah kultural masyarakat Bajau yang nafas kehidupannya menyatu dengan samudera.

Filosofi Kehidupan: Tak Bisa Dipisah dari Air
Liliansyah menegaskan bahwa masyarakat Bajau memiliki ikatan spiritual yang tak terputus dengan laut. Mulai dari ritual pengobatan, Mandi Safar, hingga prosesi Mag’jamu, semuanya memerlukan interaksi langsung dengan air asin.

“Aktivitas orang Bajau itu di laut. Ritual kita, mulai dari pengobatan hingga prosesi melarung dan menurunkan perahu, semuanya di air. Jadi, saya minta Pemerintah Daerah dan Dinas Perhubungan untuk mewujudkan ini; rumah adat itu jangan di darat,” tegas Liliansyah dengan nada persuasif.

Ia menyoroti ketimpangan fasilitas budaya yang ada. Saat ini, Suku Bajau di Berau belum memiliki rumah adat yang representatif, berbeda dengan Suku Berau dan Suku Dayak yang identitas arsitekturnya sudah mapan di daratan.

Liliansyah bahkan sempat menawarkan lahan pribadinya untuk pembangunan, namun ia sadar bahwa memaksakan rumah adat di darat justru akan menjauhkan suku ini dari akar sejarahnya.

“Kalau mau dibangun di darat, sudah lama saya hibahkan tanah saya. Tapi esensinya bukan di situ. Kita maunya di pantai, di atas air, agar ruh adat orang laut ini tetap terjaga dan tidak hilang jati dirinya,” tambahnya.


Target 2027: Ikon Wisata Budaya Baru

Selain sebagai simbol identitas, rumah adat terapung ini diproyeksikan menjadi magnet baru bagi sektor pariwisata. Arsitektur khas di atas air diyakini bakal memikat wisatawan mancanegara yang ingin merasakan langsung kearifan lokal suku laut Berau.

Liliansyah menaruh harapan besar agar Pemerintah Kabupaten Berau, khususnya Bupati, segera mengeksekusi aspirasi ini dalam perencanaan anggaran mendatang.

“Targetnya tahun 2027 fasilitas ini sudah berdiri. Ini bukan hanya soal bangunan, tapi soal memudahkan masyarakat menjalankan adatnya dan memperkaya khazanah budaya Berau di mata dunia,” pungkasnya.

(adv/dprd26/ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.