Usai Lebaran….

oleh -53 views

Catatan : Dr Aji Sofyan Effendi

GIMANA wal, aman ajakah cholesterol dan asam urat pian, tensi darah naik kah ? selawasan meudar soto banjar atau martabak dengan kareh kambing..saat lebaran tiba..kek nya balas dendam heh.

Waktu yang ditunggu tunggu akhirnya tiba ​begitu sidang isbat Kementerian Agama RI mengetok palu dan menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 suasana seketika berubah. Hanya dalam hitungan jam, langit seolah bergetar. Dari masjid besar di pusat kota hingga surau kecil di pelosok desa, gema takbir, tahmid, dan tahlil bersahut-sahutan. Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.

​Idulfitri resmi tiba, membawa perasaan lega yang sulit dilukiskan kata-kata.
​Ritual Suci dan Kepedulian Sosial
​Malam sebelumnya adalah puncak dari keriuhan yang syahdu. Di teras-teras masjid, panitia zakat sibuk menyalurkan amanah. Infaq dan sedekah mengalir kepada mereka yang berhak kaum miskin dan dhuafa
memastikan bahwa di hari kemenangan ini, tidak boleh ada satu pun perut yang lapar. Inilah esensi ibadah kita: sukses secara individu di hadapan Tuhan namun tetap membumi secara sosial.

​Kita sering bilang, Lebaran adalah momen kembali ke fitrah. Kita ibarat bayi yang baru lahir, bersih tanpa noda, harusnya memang begitu akhir perjalanan Puasa Ramdhan.

Namun, ujian sesungguhnya bukan saat Ramadan, melainkan setelah Lebaran usai. Apakah kita tetap menjadi pribadi yang “lurus”, atau kembali “simpang siur” menabrak aturan agama dalam keseharian ? Itulah indikator sukses yang sebenarnya.

​Kita yang hidup dengan tradisi Khas Nusantara ini ada satu hal yang membuat Lebaran di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, dan Brunei, terasa begitu spesial: Halalbihalal. Tradisi ini mungkin tak ditemukan di belahan dunia Muslim lainnya, namun di sini, ia adalah lem perekat sosial yang luar biasa.antar keluarga saling berkunjung antar tetangga saling berjabat tangan, pimpinan dan rakyat akrab.! No konflik..!

​Bicara soal Lebaran, tentu bicara soal “all out”. Tidak peduli gaji atau THR (Tunjangan Hari Raya) terkuras habis, yang penting meja makan penuh warna kekanakan bebaju baru!!

Di atas meja, “pasukan” kuliner sudah siap sedia: ​Opor Ayam yang gurih bersantan.
​Soto Banjar, soto Jawa, soto Berau dengan aroma rempahnya yang khas. ​Ketupat Lebaran yang padat dan legit.
​Martabak Maryam hingga Kari Daging yang menggoda selera.
​Bahkan, sebagian besar dana mungkin sudah berpindah wujud menjadi baju baru yang mengkilap. Itulah kedahsyatan Idulfitri; mau di kota atau di desa, euforianya sama. Semua orang wajib happy!

​Keajaiban Lebaran juga merambah ke dunia digital. Grup WhatsApp (WAG) yang biasanya menjadi “arena gladiator” tempat berdebat panas soal perang Iran vs Amerika-Israel hingga isu ijazah palsu
mendadak sepi dari pertikaian.
​Konflik tetangga mencair, pertentangan keluarga sirna.

Chat penuh makian berganti menjadi deretan stiker ketupat dan kalimat tulus: “Mohon Maaf Lahir dan Batin.” Kerukunan dan kekompakan menjadi pemenang tunggal di hari raya ini.

ASE (Aji Sofyan Effendi)

Ada ​”Oleh-oleh” Pasca-Pesta
​Namun, namanya juga pesta rakyat, selalu ada “jejak” yang tertinggal. Begitu Lebaran usai dan piring-piring kotor sudah dicuci, realitas medis mulai menyapa

​Yang tersisa kemudian adalah: asam urat naik, kolesterol melonjak, trigliserida “pesta pora”, hingga tensi darah yang ikut-ikutan naik.

Mendadak obat cholesterol dan asam urat serta penghilang nyeri atorvastatin laris abis, allupurinol habis, methyl prednisolon lenyap dari apotik 😀
Tapi jangan khawatir di Samarinda RS AWS, RS HERMINA, RS DIRGAHAYU dan puskesmas2 di Samarinda siap membantu buhan Pian, gratis asalkan pake BPJS..! kalau ada yang disuruh membayar di Puskesmas2 Samarinda Pian telp Dokter Ismed Kosasih kadis kesehatan Samarinda biar sidin hamuk.. 😀

​Tapi anehnya, kita tidak kapok. Karena bagi kita, kesehatan fisik mungkin bisa diperbaiki dengan diet setelah ini, namun kesehatan hati dan eratnya silaturahmi adalah kemewahan yang tak bisa ditukar dengan apa pun

​Selamat hari raya, selamat kembali beraktivitas, dan mari menjaga “fitrah” ini agar tak luntur ditelan waktu

(Penulis Pakar Ekonomi Universitas Mulawarman Samarinda, Kalimantan Timur, Aji Sofyan Effendi )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.