DPRD Berau Minta Kampung Proaktif Presentasikan Potensi Wisata

oleh -236 views
Gideon Andris

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Sektor pariwisata di tingkat kampung menjadi perhatian serius Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Berau. Anggota DPRD Berau Dapil IV, Gideon Andris, menekankan agar Kepala Kampung dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) lebih berani unjuk gigi dalam memperkenalkan kekayaan alam dan budaya daerahnya, terutama di wilayah pedalaman.

Gideon menilai, kunci utama percepatan pembangunan wisata kampung adalah keberanian pengelola untuk memaparkan konsep mereka secara langsung kepada Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar)

“Kami di DPRD sangat mendukung jika kampung punya konsep yang matang untuk dipresentasikan dan ditawarkan ke Disbudpar. Lewat Pokdarwis, sampaikan bahwa di kampung tersebut ada potensi yang layak dikembangkan pemerintah daerah,” ujar Gideon, baru-baru ini.


Pokdarwis Sebagai Jembatan Utama

Ia menggarisbawahi bahwa pembangunan pariwisata di wilayah hulu sangat bergantung pada efektivitas komunikasi dari tingkat bawah. Pokdarwis diharapkan tidak sekadar ada, tetapi berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan aspirasi kampung dengan kebijakan dinas terkait.

“Kampung harus aktif menjalin komunikasi, baik ke legislatif maupun ke dinas terkait. Medianya adalah Pokdarwis. Jadi, inisiatif itu harus lahir dan kuat dari internal kampung sendiri,” tambahnya.

Gideon juga mengingatkan agar pengembangan wisata tidak hanya mengandalkan keindahan alam semata, melainkan harus memikirkan strategi jangka panjang yang memiliki daya tarik khas.


Integrasi Budaya dan Pemetaan Agenda

Keberhasilan tradisi Bekudung Betiung di Kampung Tumbit Dayak menjadi contoh nyata yang ia kemukakan. Ritual adat yang dikemas menarik terbukti menjadi magnet bagi wisatawan.

“Wisatawan datang ke sana bisa mendapat dua hal sekaligus: nilai tradisi dan keindahan lokasi. Konsep seperti di Tumbit Dayak ini sudah tepat dan perlu diadopsi kampung lain,” jelasnya.

Lebih lanjut, Gideon mengusulkan adanya mapping atau pemetaan agenda wisata (calendar of events) yang lebih sistematis. Ia berharap perhelatan budaya antar-kampung dapat digelar dalam rangkaian waktu yang berdekatan untuk memanjakan wisatawan.

“Harapan saya, agenda adat ini waktunya tidak terpisah jauh. Jadi wisatawan bisa menikmati rangkaian acara secara estafet. Misalnya, setelah dari Bekudung Betiung di Tumbit Dayak, bisa lanjut ke tradisi Meja Panjang di Merasa. Jika terorganisir, wisatawan pasti lebih betah di Berau,” pungkasnya.

(adv/dprd26/ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.