Fenomena Ekonomi Spiritual Dalam Lebaran

oleh -44 views

(​Menuju Ekosistem dari “Daya Beli menjadi Daya Beri”)

Analisis : ASE
(Dr Aji Sofyan Effendi)

​Setelah beberapa seri tulisan saya terkait dengan lebaran Iedul Fitri, maka ulasan tulisan kali ini tampak Lebih serius dan memberikan kesan ilmiah.

Rekan-rekan pasti memahami, khusus nya yang menyangkut bidang keilmuan ekonomi. Dalam diskursus ekonomi arus utama, perilaku konsumen biasanya didorong oleh utility maximization teori ini sudah dikenalkan sejak di semester 1, mata kuliah Pengantar ilmu ekonomi, atau maksimalisasi kepuasan pribadi

Namun, kadang saya berfikir untuk menawarkan antitesis yang mungkin baru yaitu dimana. fenomena Lebaran membuktikan bahwa ada variabel “X” yang tidak tertampung dalam kurva permintaan dan penawaran konvensional, yaitu Motivasi Transendental maklum wal, kebetulan saya ngajar mata kuliah STATISTIKA sudah lebih 30 tahun.

Logika nya begini, ketika seseorang mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah (ZIS), secara akuntansi terjadi pengurangan aset pribadi. Namun, dalam kacamata Ekonomi Spiritual, aktivitas ini justru saya anggap sebagai investasi jangka panjang yang bersifat “unlimited”. Inilah yang disebut ASE sebagai pergeseran dari Purchasing Power (Daya Beli) menjadi Daya Beri

Ini mengakibatkan terjadinya ​Multiplier Effect dari Ketulusan
​Jika ekonomi kapitalis sering kali berujung pada penumpukan kekayaan di satu titik (wealth accumulation), Ekonomi Spiritual saat Lebaran justru menciptakan distribusi kekayaan otomatis dan menyebar ke lapisan masyarakat grassroot


Likuiditasnya mengalir ke bawah, melalui tradisi mudik dan berbagi “angpao” Lebaran, terjadi aliran likuiditas dari kota ke desa, dari golongan mampu ke golongan kurang mampu. Ini adalah mekanisme social safety net (jaring pengaman sosial) berbasis kearifan lokal yang sangat tangguh.

Fenomena Lebaran ini, termasuk pemberian THR ​Jika secara kuantitatif kita bicara tentang perputaran triliunan rupiah, secara kualitatif kita bicara tentang Social Capital (Modal Sosial). Rasa saling percaya, persaudaraan, dan hilangnya sekat sosial saat bersalaman di hari raya adalah aset ekonomi yang tak ternilai harganya bagi stabilitas sebuah bangsa.

Maka pada akhirnya rekan rekan akan melihat bahwa ada fenomena ​ekonomi yang “Memanusiakan” Manusia

​Poin krusial dari pemikiran ASE adalah bahwa ekonomi spiritualis tidak mengharamkan keuntungan material, namun ia meletakkan material tersebut sebagai pelayan bagi nilai-nilai kemanusiaan. Saat Lebaran, pasar bukan lagi sekadar tempat pertukaran barang, melainkan panggung pengabdian.


Seorang pedagang yang memberikan diskon karena niat membantu sesama, atau seorang majikan yang memberikan bonus melebihi kewajiban normatifnya, adalah aktor-aktor utama dalam panggung ekonomi spiritual ini.

Dimana Mereka membuktikan bahwa, ​Keikhlasan adalah mesin penggerak yang lebih kuat dari sekadar kontrak kerja.

Juga adanya ​Kesabaran dalam melayani adalah bentuk ibadah profesional.

Lalu yang lebih penting isi ekonomi spiritual itu adalah rasa Kebersyukuran adalah indikator kesejahteraan yang jauh lebih akurat daripada sekadar angka Pendapatan Per Kapita.

Dari Fakultas Ekonomi ( FEB) Kampus Universitas Mulawarman, Gunung Kelua,​Gagasan Ekonomi Spiritual yang dihidupkan oleh Dr. Aji Sofyan Effendi ini memberikan pesan kuat bagi para pengambil kebijakan dan pelaku usaha. Bahwa sejatinya, ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang memiliki “ruh spiriitualis”

​Lebaran bukan sekadar siklus konsumsi tahunan yang memicu inflasi, melainkan momentum bagi bangsa ini untuk melakukan reset mental; Jika semangat “Daya Beri” ini mampu kita transformasikan ke dalam etos kerja sehari-hari di luar bulan Syawal, maka ketimpangan ekonomi niscaya akan terkikis oleh kekuatan spiritualitas yang nyata.

​Ekonomi Spiritual mengajarkan kita satu hal fundamental: Kita tidak akan pernah kekurangan dengan cara memberi, karena dalam setiap pemberian, ada keberkahan yang melipatgandakan nilai kemanusiaan kita.bagaimana kawan setuju dengan perenungan saya ini.

(Penulis Pakar Ekonomi Universitas Mulawarman Samarinda, Kalimantan Timur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.