‘Serak Sorai’: Refleksi Pameran Seni Rupa Atas Perubahan Ruang Hidup di Berau

oleh -869 views
Menghidupkan kembali ekosistem seni rupa, sekaligus memberi warna baru pada geliat kreatif di Kabupaten Berau. Pameran ini berlangsung di Atara Studio, Jalan Albina Gang Masyhuda II, mulai 18 April hingga 28 April 2026. foto Toni Arman Dimensinews.id

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Komunitas seni Tanaruai resmi menggelar pameran perdana bertajuk “Serak Sorai”. Agenda ini menjadi langkah nyata dalam menghidupkan kembali ekosistem seni rupa, sekaligus memberi warna baru pada geliat kreatif di Kabupaten Berau.

Pameran ini berlangsung di Atara Studio, Jalan Albina Gang Masyhuda II, mulai 18 April hingga 28 April 2026.

Menangkap Esensi Ruang yang Berubah
Pimpinan Produksi, Seto Kumoro, menjelaskan bahwa pameran ini merupakan sebuah refleksi atas perubahan ruang hidup yang terjadi secara dinamis. Pergeseran fungsi ruang—baik yang hilang, berubah peruntukan, hingga yang tidak lagi terakses—dinilai memberikan dampak mendalam bagi fisik lingkungan maupun pengalaman batin masyarakat.


Seto Kumoro

“Serak Sorai membuka ruang bagi suara-suara yang tidak selalu utuh; ada yang serak, lantang, hingga yang tertahan di antara perubahan ruang dan ingatan. Kami mengajak publik untuk singgah sejenak, mendengar kembali, dan mempertanyakan proses kita di dalamnya,” ujar Seto.

Wadah Eksplorasi Lintas Generasi
Lebih dari sekadar pajangan karya, pameran ini dirancang sebagai titik temu bagi penggiat dan penikmat seni visual dari berbagai latar belakang serta generasi. Di sini, para seniman saling berbagi proses kreatif sembari mengeksplorasi isu sosial-budaya dan lingkungan sekitar.

“Kami berharap melalui pameran ini, para pencinta seni dapat menikmati sekaligus merespons karya-karya yang kami sajikan,” tambahnya.

Pengetahuan dari Pengalaman Hidup
Seto menegaskan bahwa “Serak Sorai” juga menyoroti bagaimana sebuah pengalaman tidak harus dialami secara langsung untuk menjadi bermakna. Pengalaman bisa terbentuk melalui cerita, citra, dan ingatan kolektif yang beredar di tengah masyarakat.

Menariknya, pameran ini memposisikan praktik sehari-hari sebagai sebuah bentuk pengetahuan, baik itu pengetahuan Non-Formal. yang mana pengetahun formal ini tidak hanya bersumber dari sistem formal, tetapi lahir dari pengalaman hidup yang dijalani dan diwariskan. Pengetahun lainya mengenai keberagaman suara, menghadirkan berbagai perspektif yang mungkin tidak selalu selaras, namun saling melengkapi.

“Justru dalam keberagaman suara tersebut, pameran ini mengajak publik untuk memperhatikan hal-hal yang kerap terlewat dan mempertanyakan posisi kita di tengah perubahan yang terus berlangsung,” pungkas Seto.

(ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.