Harapan dari Anyaman Rotan dari Kecamatan Segah

oleh -720 views
Ros memamerkan tas hasil anyamannya. foto dok Kominfo Berau

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Suasana di Kantor BKKBN Kecamatan Segah siang itu terasa hangat dan berbeda. Jemari para peserta yang selama beberapa hari terakhir sibuk meraut dan menganyam rotan kini mulai beristirahat sejenak. Meski kegiatan pelatihan resmi ditutup, semangat yang terpancar dari wajah mereka justru kian menguat—sebuah semangat tentang harapan, keterampilan baru, dan mimpi yang mulai dirajut menjadi nyata.

Salah satu cerita inspiratif datang dari Ibu Ros, salah satu peserta pelatihan kerajinan anyaman rotan yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dekranasda. Dengan wajah sumringah, ia berbagi pengalaman berharganya selama mengikuti kelas kriya tersebut.

“Selama pelatihan ini, kami benar-benar mendapatkan banyak ilmu. Instrukturnya sangat terbuka; kalau ada yang belum kami pahami, kami bisa langsung bertanya. Suasananya menyenangkan, jadi kami tidak sungkan untuk terus belajar,” ungkapnya antusias.

Bukan Sekadar Seremonial

Bagi Ibu Ros, pelatihan ini jauh lebih berharga daripada sekadar kegiatan formal. Ia melihat peluang nyata untuk mengubah keterampilan tangan menjadi sumber penghasilan keluarga. Ilmu yang dibagikan instruktur telah membuka wawasannya tentang bagaimana rotan, yang melimpah di alam, dapat diolah menjadi produk kriya bernilai jual tinggi.

“Dengan pengalaman ini, kami jadi tahu banyak hal yang sebelumnya tidak kami mengerti. Harapannya, apa yang sudah diajarkan bisa terus kami praktikkan dan kembangkan secara mandiri ke depan,” ujarnya.

Tantangan Alat dan Harapan Berlanjut

Namun, di balik antusiasme tersebut, Ibu Ros tidak menampik adanya tantangan nyata bagi para perajin pemula. Keterbatasan peralatan menjadi kendala utama untuk memproduksi karya secara masif dan rapi.

“Kami sebenarnya sudah bisa menganyam, tetapi peralatan kami masih sangat terbatas, terutama alat untuk meraut rotan. Kami sangat berharap ada dukungan bantuan peralatan dari pemerintah agar kreativitas kami tidak terhenti di sini,” keluhnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kesinambungan program. Ibu Ros berharap pelatihan ini memiliki tindak lanjut berupa pendampingan dan akses pasar, agar keterampilan yang sudah diperoleh tidak menguap begitu saja.

“Jangan sampai pelatihan ini sia-sia. Kami ingin terus mengembangkan hasil anyaman ini, bahkan kalau bisa dipasarkan lebih luas, baik melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) maupun pasar luar,” pungkasnya penuh harap.

Cerita Ibu Ros adalah potret kecil dari besarnya potensi kerajinan rotan di Kecamatan Segah. Di balik setiap pola anyaman yang rumit, tersimpan ketekunan dan cita-cita untuk meningkatkan kesejahteraan. Pelatihan ini bukan hanya melahirkan produk kerajinan fisik, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri bahwa dengan keterampilan, rotan bukan lagi sekadar bahan alam, melainkan jalan menuju kemandirian ekonomi.

(Kominfo Berau)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.