The Oracle of Usadha Menjawab Pertanyaan yang Selama Ini Tak Berani Ditanyakan Generasi Muda Bali tentang Tradisi Leluhurnya

oleh -9 views

DENPASAR, DIMENSINEWS — Ada sesuatu yang tidak biasa di Ruang Praja Sabha, Kantor Gubernur Bali, Senin sore itu. Di ruangan yang biasanya diisi rapat-rapat kebijakan dan seremoni pemerintahan, hari itu yang duduk berdampingan adalah seorang rohaniwan senior, dua orang profesor sains, dan seorang dokter muda yang tumbuh besar dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berani ia tanyakan kepada leluhurnya.

Yang menyatukan mereka adalah sebuah buk.
The Oracle of Usadha — karya Dr. dr. I Gusti Ngurah Putra Eka Santosa, M.Fis, yang lebih akrab disapa dokter Ngurah — adalah buku yang lahir dari kegelisahan. Bukan kegelisahan yang melumpuhkan, melainkan kegelisahan yang mendorong seseorang masuk ke laboratorium dan bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi ketika orang Bali melukat, meditasi, atau menjalani ritual pebayuhan?

Forum bedah buku yang dihadiri akademisi, pejabat Dinas Kesehatan, dekan-dekan Fakultas Kedokteran, dan para direktur rumah sakit se-Bali itu terasa lebih seperti reuni intelektual antargenerasi. Di kursi-kursi yang melingkar rapi, hadir pula tokoh-tokoh: Ida Dalem Semaraputra dari Puri Klungkung, A.A. Bagus Djelantik dari Puri Ageng Karangasem, dr. Anak Agung Martha Sp.OG dari Puri Nyalian, tokoh nasional Dr. I Gede Subawa, M.Kes., AAK — mantan Direktur Askes sekaligus Komisaris RS Wisma Prasanti Tabanan — serta dr. Wayan Mustika sebagai Komisaris Independen PT Varash Sadan Nusantara. Wajah-wajah yang selama ini memimpin kebijakan dan pelayanan kesehatan Bali, kini duduk sebagai pendengar yang penasaran.

Pembedah pertama, Ida Shri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, membuka diskusi bukan dengan teori — melainkan dengan pengakuan.
“Dalam berbagai teks Usadha, kemampuan menyembuhkan diri sendiri itu memang ada,” katanya, suaranya tenang dan berwibawa. “Saya sendiri pernah membuktikannya. Saat jatuh dari ketinggian tujuh meter, tulang servikal saya patah dan saya lumpuh. Saya masih menggunakan aksara sebagai media penyembuhan.”

Ruangan hening sesaat. Bukan hening yang canggung — melainkan hening yang penuh.
Inilah yang membuat forum ini berbeda dari seminar akademis biasa: ia tidak dimulai dari data, tetapi dari pengalaman. Pengalaman seorang tokoh spiritual yang telah menghabiskan hidupnya menekuni teks-teks Usadha, dan yang kini berdiri di depan para dokter dan profesor untuk berkata: ini bukan sekadar ritual, ini bekerja.

“Kita Tidak Mau Menerima ‘Nak Mula Keto'”
Dokter Ngurah, penulis buku sekaligus akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Mahasaraswati Denpasar, menjelaskan dari mana buku ini berasal.

“Kita sebagai milenial tidak mau menerima budaya nak mula keto,” ujarnya usai acara, dengan nada yang campuran antara humor dan kesungguhan. “Jadi kami mencoba mencari dasar ilmiah dari apa yang sudah dilakukan leluhur kita”

Akademisi sekaligus praktisi ini menggambarkan perjalanan intelektualnya bukan sebagai penolakan terhadap tradisi, melainkan sebagai bentuk penghormatan yang lebih dalam. Jika leluhur sudah tahu sesuatu bekerja, maka generasi ini bertugas menjelaskan mengapa ia bekerja.Dan penjelasan itu, kata dokter Ngurah, kini mulai tersedia.

“Dengan majunya penelitian di bidang biomedik, kita menemukan titik temunya. Usadha Bali dengan kedokteran bertemu pada regenerative medicine,” jelasnya. Meditasi yang menurunkan kadar stres oksidatif. Proses melukat yang bekerja melalui modulasi sistem saraf otonom. Ritual pebayuhan yang menyentuh jalur epigenetik. Semua, katanya, kini mulai dapat buktikan secara kuantitatif di laboratorium.

Dua pembedah berikutnya membawa substansi buku ke dalam percakapan saintifik yang lebih dalam.
Prof. Dr. dr. I Made Jawi, M.Kes, menilai buku ini berhasil melakukan sesuatu yang jarang berhasil dilakukan: meletakkan fondasi yang solid bagi integrasi Usadha ke dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Bukan sebagai lampiran anekdotal pada protokol medis, melainkan sebagai kontributor utama dengan mekanisme yang dapat diverifikasi.

Prof. apt. Dr. rer. nat. I Made Agus Gelgel Wirasuta, M.Si, membawa perspektif yang lebih luas. Bagi Prof Gelgel, The Oracle of Usadha memberikan sesuatu yang selama ini absen dalam diskusi integrasi pengobatan tradisional dan modern: peta aksiologi. Sebuah kerangka nilai yang dapat dijadikan acuan oleh para praktisi ketika mereka harus membuat keputusan di persimpangan antara Usadha dan kedokteran berbasis bukti dalam lanskap layanan medical wellness masa depan.
I.B. Ketut Kiana, tokoh masyarakat asal Sanur yang hadir sebagai peserta, merangkumnya dengan cara yang paling sederhana dan paling mengena.

“Yang dulunya hanya berdasarkan warisan dan keyakinan, sekarang dijelaskan dan dibuktikan secara ilmiah,” katanya. “Saya melihat keberanian anak muda dalam buku ini untuk mengangkat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dari dulu tersimpan mengenai kearifan lokal Bali,”

Itulah mungkin kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi di Ruang Praja Sabha hari itu. Bukan revolusi. Bukan pertentangan antara tradisi dan modernitas. Melainkan sebuah rekonsiliasi yang telah lama ditunggu — antara apa yang leluhur sudah rasakan benar, dan apa yang sains kini mulai mampu buktikan.

Dokter Ngurah menutup hari itu dengan harapan yang sederhana namun berat maknanya: “Kita berharap buku ini menjadi pemantik diskusi antargenerasi, sehingga kita sebagai orang Bali lebih mencintai Bali — dan melaksanakan budaya Bali tidak sebagai formalitas, namun lebih dalam memaknainya.”

Di luar jendela, sore Bali turun perlahan. Di dalam, diskusi masih berlanjut — sebagaimana seharusnya percakapan yang benar-benar penting: tidak mudah selesai, tidak ingin berhenti.

(esf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.