Galeri Tenun M@m@be Dibuka, Jadi Ikon Fesyen Berau

oleh -96 views
Galeri Tenun M@m@be di Jalan Pemuda, Tanjung Redeb. foto Toni Arman Dimensinews.id

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Berau terus menunjukkan pertumbuhan positif. Salah satu pencapaian terbaru adalah peresmian Galeri Tenun M@m@be di Jalan Pemuda, Tanjung Redeb. Kehadiran galeri ini diharapkan menjadi motor penggerak industri kreatif lokal, meningkatkan ekonomi warga, sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Sekretaris Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Hasnawati, mengapresiasi lonjakan kuantitas UMKM di Bumi Batiwakkal. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan krusial berikutnya adalah peningkatan kualitas agar para pelaku usaha bisa benar-benar naik kelas.

“UMKM naik kelas ditandai dengan peningkatan pendapatan, penambahan tenaga kerja, serta perluasan pasar. Itulah indikatornya. Namun, jika dari tahun lalu tenaga kerjanya hanya dua orang dan tiga tahun ke depan tetap dua orang, artinya belum naik kelas dan aspek ini perlu dipacu lagi,” ungkap Hasnawati.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa di era modern ini, digitalisasi menjadi aspek wajib yang tidak boleh ditinggalkan oleh para pelaku UMKM. Ia juga membagikan rumus sukses melalui tiga pilar utama yang wajib diterapkan, yaitu menjaga kualitas produk, mempertahankan harga tetap kompetitif, serta memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen.

Hasnawati mengingatkan pentingnya memastikan kepuasan pelanggan, sebab konsumen yang puas akan menjadi promotor gratis, sementara yang kecewa bisa merusak reputasi bisnis secara cepat.

Sementara itu, Owner Galeri Tenun M@m@be, Sonia, mengungkapkan rasa syukurnya atas berdirinya galeri mandiri ini. Ia mengapresiasi dukungan penuh dari TP PKK, Diskoperindag, dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau.

Sonia menceritakan, sejarah tenun di Berau dimulai pada tahun 2016 atas tantangan dari Ketua Dekranasda saat itu. Awalnya, proses produksi menggunakan alat gedogan tradisional yang menghasilkan kain tebal dan cenderung mahal. Berkat bantuan stimulus dari pemerintah, mereka akhirnya bertransformasi menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Inovasi tersebut sukses membuat kain Tenun Berau menjadi lebih variatif, bertekstur lebih nyaman, dan harganya terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.

Meski sukses berkembang dan telah mendirikan galeri mandiri, Sonia mengakui industri tenun lokal saat ini menghadapi ancaman serius terkait regenerasi perajin.

“Harapan terbesar saya adalah adanya kaderisasi. Saat ini, mayoritas perajin tenun yang bertahan adalah mereka yang sudah lanjut usia, di mana kemampuan fisik dan penglihatan mulai menurun. Kita butuh generasi muda yang mau meneruskan dan mencintai tenun agar warisan budaya ini tidak punah,” jelasnya.

Sebagai solusi nyata untuk merawat warisan budaya tersebut, Galeri M@m@be kini tidak hanya sekadar menjual produk tenun. Tempat ini juga bertransformasi menjadi pusat pelatihan dengan menyiapkan program edukasi tenun bagi anak usia dini, lengkap dengan alat tenun yang telah disesuaikan dengan usia peserta.

Melalui sinergi antara pemerintah, dinas terkait, dan pelaku usaha, kerajinan Tenun Berau diharapkan mampu menjadi ikon fesyen daerah yang kompetitif sekaligus terus lestari di tangan generasi penerus.

(ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.