Petani Gurimbang Rintis Masa Depan Lewat Kakao

oleh -71 views
Iriansyah (62), warga RT 4 Kampung Gurimbang, yang kini tengah mencurahkan energinya untuk menghidupkan kembali lahan pertaniannya melalui komoditas Kakao. foto dok

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Di tengah hijaunya perkebunan Kampung Gurimbang, seorang petani senior membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk berinovasi. Adalah Iriansyah (62), warga RT 4 Kampung Gurimbang, yang kini mencurahkan energinya untuk menyulap lahan pertanian menjadi sumber penghasilan baru yang menjanjikan.

Pria yang mendedikasikan lebih dari separuh hidupnya di dunia pertanian ini sebelumnya terbiasa menanam tanaman hortikultura. Mulai dari jagung hingga sayur-sayuran pernah ia geluti. Namun, komoditas jangka pendek tersebut memiliki nilai jual yang sangat fluktuatif, tergantung musim dan tren pasar.

“Semua jenis tanaman jangka pendek sudah pernah saya coba. Lalu, ada sosialisasi dari Berau Coal tentang budidaya kakao. Saya tertarik karena komoditas ini menjadi unggulan di Kabupaten Berau, ditambah lagi dengan dukungan penuh dari perusahaan,” ungkap Iriansyah.

Peluang emas ini hadir lewat pilar ekonomi Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Berau Coal. Program strategis ini dirancang untuk meningkatkan ekonomi warga secara berkelanjutan. Langkah ini juga sejalan dengan agenda Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau dalam mengembangkan komoditas kakao daerah.

Awal tahun 2025 menjadi titik balik bagi Iriansyah. Ia mulai menggarap lahan seluas 1,2 hektare miliknya dengan menanam 1.000 bibit kakao bersertifikat yang disalurkan oleh program PPM PT Berau Coal.

Fasilitas Lengkap dan Sistem Tumpang Sari
Dukungan perusahaan tidak berhenti pada bibit utama. Guna memastikan pertumbuhan kakao berjalan optimal, PT Berau Coal juga memasok Sarana Produksi (Saproduksi) pertanian yang lengkap. Bantuan meliputi pupuk kompos, dolomit, hingga obat-obatan pertanian.

Menariknya, program ini juga menyediakan tanaman penaung bernilai ekonomis tinggi seperti 60 bibit petai, 5 bibit kelapa, 10 bibit alpukat, serta bibit durian. Sembari menunggu pohon kakao siap panen, Iriansyah dan keluarga bisa memetik keuntungan dari buah tanaman penaung tersebut.

Tak hanya itu, petani dibekali benih hortikultura cepat panen seperti cabai, kangkung, tomat, dan jagung. Strategi tumpang sari ini menjadi solusi cerdas agar para petani tetap memiliki sumber penghasilan harian selama masa tunggu produksi kakao.

Jaminan Pasar Menuju Kemandirian Ekonomi
Beralih ke komoditas kakao memberikan rasa aman yang tidak ditemukan Iriansyah pada musim-musim sebelumnya. Masalah klasik petani soal pemasaran kini sudah menemukan titik terang.

“Dengan kakao, saya tidak perlu pusing lagi memikirkan ke mana harus menjual hasil panen nanti. Pasarnya sudah pasti, jadi saya bisa menanam dengan tenang,” tuturnya.

Kepastian ini terwujud karena hasil panen para petani nantinya akan langsung diserap melalui program yang difasilitasi oleh PT Berau Coal.

“Alhamdulillah, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Berau Coal atas bantuan modal dan fasilitas berkebun ini. Harapan saya, Berau Coal bisa terus mendampingi proses kami hingga sukses,” tambah Iriansyah.

Meski baru sekali mengikuti Sekolah Lapang Kakao, kebun milik Iriansyah menunjukkan perkembangan yang sangat memuaskan di mata tim pendamping. Kuncinya terletak pada kedisiplinan dan ketekunannya dalam mempraktikkan setiap instruksi teknis.

Kisah Iriansyah menjadi cerminan nyata bagaimana kolaborasi antara kemauan keras petani dan pendampingan korporasi yang tepat dapat menciptakan kemandirian ekonomi. Semangat Iriansyah kini menjadi fondasi kokoh menuju masa depan pertanian Berau yang lebih maju dan sejahtera.

(adv/bc26/ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.