Pasokan Masih Minim, Disbun Berau Ajak Petani Manfaatkan Lahan untuk Kopi Liberika

oleh -61 views
ruang diskusi kolaboratif “Ngopi di Kebun” bertema Membangun Kolaborasi Ekosistem Kopi Liberika Kalimantan Timur dari Hulu hingga Hilir yang diinisiasi Sekolah Tani Indonesia, di Kedai Kanne Kopi Rest Area Parisau, Kampung Sembakungan, Gunung Tabur, Sabtu (25/7/2026). foto Toni Arman Dimensinews.id

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Kopi Liberika mulai menunjukkan potensi besar sebagai salah satu komoditas prospektif di Kabupaten Berau. Meski belum masuk dalam daftar komoditas unggulan daerah, Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau membuka peluang lebar untuk memfasilitasi pengembangannya secara masif ke depan.

Sekretaris Disbun Kabupaten Berau, Mansur Tanca, mengungkapkan bahwa saat ini fokus dukungan dan anggaran daerah masih tertuju pada dua komoditas unggulan utama, yakni kelapa sawit dan kakao. Namun, potensi pasar kopi Liberika—baik domestik maupun global—dinilai sangat menjanjikan seiring tingginya minat masyarakat dan anak muda terhadap tren budaya minum kopi.

“Kopi Liberika ini memang belum masuk komoditas unggulan kita, statusnya masih komoditas prospektif. Namun, jika ke depan antusiasme masyarakat semakin besar dan diusulkan secara berjenjang melalui Musrenbang, tentu akan kita dukung pengembangannya,” ujar Mansur.

Strategi Indikasi Geografis (IG) untuk Pasar Global
Mansur menjelaskan, salah satu langkah strategis yang disiapkan jika luasan dan produksi kopi Liberika sudah memadai adalah pendaftaran Hak Indikasi Geografis (IG). Strategi ini terbukti sukses pada komoditas kakao Berau yang kembali diminati pembeli lokal hingga internasional setelah mengantongi sertifikasi IG.

Pengalaman Kakao Berau: Setelah memperoleh branding IG, pasokan kakao ke buyer luar meningkat pesat.

Arah Pengembangan Kopi: Skema serupa akan diterapkan pada kopi Liberika agar memiliki nilai tawar tinggi dan daya tarik di pasar global.


Tantangan Produksi dan Peluang Lahan Fleksibel

Meski cita rasa dan kualitas kopi lokal Berau sangat bersaing berkat inovasi pengolahan, tantangan terbesar saat ini terletak pada jumlah produksi yang masih minim. Pasokan kopi lokal sejauh ini baru bertumpu di beberapa wilayah, seperti Talisayan, Birang, Sembakungan dan Samburakat.

Kondisi ini menyebabkan sebagian besar kebutuhan kopi di Berau masih bergantung pada pasokan luar daerah, seperti Sulawesi dan Jawa. Selain itu, pesatnya perkembangan kelapa sawit menjadi tantangan tersendiri dalam menarik minat petani. Padahal, budidaya kopi memiliki keunggulan fleksibilitas lahan yang tidak membutuhkan area luas.

“Kopi tidak harus di lahan luas. Menanam di lahan setengah hektar atau memanfaatkan sela-sela hutan pun bisa. Bahkan ancaman hama seperti luwak justru bisa dimanfaatkan menjadi nilai tambah untuk produksi kopi luwak yang bernilai tinggi,” tambah Mansur.

Dukungan Melalui Musrenbang
Dinas Perkebunan Berau mengimbau masyarakat maupun kelompok tani yang berminat mengembangkan kopi Liberika untuk menyuarakan aspirasi tersebut dari tingkat dasar.

Jika usulan tersebut masuk dalam perencanaan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang), Disbun siap mengintervensi melalui bantuan sarana produksi (saprodi) dan pendampingan teknik budidaya ke depannya.

(adv/kom25/ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.