Orientasi Pascasarjana UINSI Samarinda, Mahasiswa Diminta Serius Bangun Kapasitas Keilmuan

oleh -52 views

SAMARINDA, DIMENSINEWS — Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda menggelar Orientasi Mahasiswa Baru Pascasarjana Tahun 2026 di Kampus 2 UINSI Samarinda, Jalan H.A.M.M. Rifaddin, Jumat (21/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa baru program magister (S2) dan doktor (S3). Orientasi menjadi bagian wajib bagi mahasiswa sebelum menjalani proses akademik di lingkungan Pascasarjana UINSI Samarinda.

Direktur Pascasarjana UINSI Samarinda, Prof. Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M.Pd., mengatakan orientasi akademik tidak sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi bekal mahasiswa memahami sistem dan budaya akademik yang akan dijalani selama menempuh pendidikan.

Ilyasin mengibaratkan orientasi akademik seperti manasik sebelum melaksanakan ibadah umrah. Mahasiswa tidak cukup hanya memiliki niat dan semangat, tetapi harus memahami tata cara, aturan dan tahapan yang harus dilalui.

“Orientasi ini saya identikkan dengan manasik. Orang akan umrah, pelaksanaan ibadah umrah itu tidak cukup hanya modal niat dan semangat,” kata Ilyasin.

Menurut dia, mahasiswa perlu memahami visi, misi dan tujuan Pascasarjana, pedoman akademik, tata cara penulisan karya ilmiah, budaya akademik, etika serta integritas ilmiah.

Mahasiswa juga diminta mulai menemukan persoalan atau kegelisahan akademik sejak awal masa studi. Persoalan tersebut nantinya dapat dikembangkan menjadi bahan penelitian tesis maupun disertasi.

“Jangan nanti menunggu semester akhir baru kita mencari masalah atau risetnya. Kita sudah harus mencicil mulai sekarang bagaimana menemukan kegelisahan akademiknya yang nanti akan diangkat sebagai tesis atau disertasi,” ujarnya.

Ilyasin menyebut penerimaan mahasiswa baru Pascasarjana UINSI Samarinda tahun ini mencapai 373 mahasiswa. Jumlah tersebut terdiri atas 288 mahasiswa program S2 dan 85 mahasiswa S3.

Untuk program S3, terdiri atas 21 mahasiswa S3 PAI, 19 mahasiswa S3 MBI dan 45 mahasiswa S3 Studi Islam. Sementara mahasiswa S2 tersebar pada sejumlah program studi.

Dari keseluruhan mahasiswa baru tersebut, sebanyak 240 mahasiswa atau 64,34 persen telah terdaftar sebagai calon penerima program pembebasan biaya kuliah yang disampaikan dalam orientasi.

Sementara itu, Rektor UINSI Samarinda Prof. Dr. H. Zurqoni, M.Ag., meminta mahasiswa tidak hanya berorientasi pada gelar dan ijazah, tetapi membangun kapasitas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Zurqoni mengatakan keberhasilan studi Pascasarjana tidak hanya ditentukan kemampuan akademik. Kemampuan membangun komunikasi dengan dosen pembimbing juga menjadi bagian penting dalam proses penyelesaian studi.

Ia meminta mahasiswa memahami karakter dan kondisi dosen sebelum melakukan konsultasi.

“Saya sampaikan Anda harus belajar psikologi. Untuk apa? Untuk dapat memahami kondisi psikologis dosen Anda,” kata Zurqoni.

Menurut dia, setiap dosen memiliki karakter, kesibukan dan pola komunikasi berbeda. Karena itu, mahasiswa perlu membangun komunikasi secara sehat dan memahami situasi ketika hendak melakukan konsultasi.

Zurqoni menceritakan pengalamannya ketika menempuh pendidikan doktoral di Universitas Negeri Yogyakarta secara mandiri. Saat itu, ia mengaku harus berutang untuk membeli tiket keberangkatan mengikuti tes masuk.

Pengalaman tersebut, kata dia, menjadi pelajaran bahwa keterbatasan biaya tidak semestinya menghilangkan komitmen untuk menuntut ilmu.

“Kalau diniatkan belajar di Pascasarjana S2 dan S3 dalam kondisi apa pun insyaallah bisa selesai asalkan lillahi ta’ala,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar memiliki komitmen menyelesaikan studi sejak awal. Menurutnya, tantangan terbesar justru muncul ketika mahasiswa memasuki tahap penelitian dan penyusunan tesis maupun disertasi.

“Manakala berurusan dengan tugas akhir, Bapak-Ibu harus punya kemampuan dan membangun kapasitas. Itu tidak bisa nyontek kanan kiri,” tegasnya.

Zurqoni juga mendorong mahasiswa mengenal seluruh unsur di lingkungan kampus, mulai dari pimpinan, pengelola Pascasarjana, ketua program studi, dosen, tenaga kependidikan hingga petugas keamanan dan kebersihan.

Menurutnya, komunikasi yang baik dengan seluruh unsur kampus dapat membantu mahasiswa memperoleh informasi dan solusi ketika menghadapi persoalan selama menjalani studi.

Dalam menghadapi perkembangan teknologi, Zurqoni juga meminta mahasiswa menguasai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). AI, menurut dia, dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar dan penelitian, tetapi tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir mahasiswa.

“Kita harus menguasai AI, bukan dikuasai AI dan bergantung pada AI,” ujarnya.

Ia mengatakan UINSI Samarinda juga tengah menyiapkan sejumlah staf untuk mempelajari AI sebagai bagian dari upaya mengembangkan layanan berbasis teknologi di lingkungan kampus.

Zurqoni berharap mahasiswa Pascasarjana UINSI Samarinda tidak sekadar mengejar gelar, tetapi mampu menghasilkan karya dan keilmuan yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Tidak sekadar dapat gelar, tidak sekadar dapat ijazah, tetapi lulus sesuai dengan kapasitasnya, lulus dengan menyandang gelar dan ilmunya dapat dipertanggungjawabkan di masyarakat,” katanya.

Orientasi Mahasiswa Baru Pascasarjana Tahun 2026 selanjutnya dibuka secara resmi dengan pembacaan Surah Al-Fatihah. (fnd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.