IN MEMORIAM: ADJI RASMANSYAH (1942–2026) Sang Maestro Pembawa Nyawa Tari Jappin dan Penjaga Ingatan Kebudayaan Berau

oleh -15 views
Adji Rasmansyah

Penulis : Helda Mildiana

Kabar Duka dari Bumi Batiwakkal
Kabar duka menyelimuti Kabupaten Berau. Hari Selasa sore kemarin, Bumi Batiwakkal kehilangan salah satu putra terbaik sekaligus pilar utama penjaga kebudayaannya: Adji Rasmansyah Bin Adji Raden Sambawa Bin Datu Maharajadinda Bin Sultan Amiruddin.

Tadi siang, jasad sang maestro telah dihantarkan dan dimakamkan dengan khidmat di kompleks Pemakaman Kesultanan Gunung Tabur, Kelurahan Gunung Tabur. Almarhum menghembuskan napas terakhirnya di usia 86 tahun (lahir 13 Oktober 1942) setelah sempat jatuh sakit singkat selama dua hari. Tangis dan doa dari keluarga, kerabat kesultanan, murid-murid, serta pegiat seni mengiringi kepulangannya ke haribaan Sang Pencipta.

Mendapatkan penghargaan lifetime Achievement Art dari Pengiat Seni di Kabupaten Berau, tahun 2025 lalu. foto dok Helda Mildiana Dimensinews.id


Darah Bangsawan dan Jiwa Pengabdi Seni

Pak Rasman—begitu sapaan akrabnya di tengah masyarakat—merupakan keturunan ketiga (cucu/trah) dari Sultan Gunung Tabur, Sultan Amiruddin. Kendati menyandang garis bangsawan yang kuat dan adat istiadat melekat erat dalam dirinya, sosok Pak Rasman dikenal sangat low profile, bersahaja, dan terbuka kepada siapa saja tanpa sekat.

Sebagai pensiunan PNS Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), dedikasinya terhadap seni budaya tak pernah kenal kata purna tugas. Setelah pensiun dari kedinasan, langkahnya justru makin gencar. Sekolah-sekolah di Berau memperdayakannya untuk mengajarkan pelajaran seni tari.

Di lingkungan Keraton dan Museum Gunung Tabur, bersama sahabat senimannya (almarhum Gufransyah), Pak Rasman menjadi sosok yang setia mengajari anak-anak menari dan memainkan instrumen musik tradisional.

Keahliannya pun sangat multitalenta. Adji Rasman tidak hanya lihai mengolah tari, tetapi juga mahir memainkan serta mengajarkan belasan jenis alat musik, mulai dari sape, lutong, gambus, kendang, rebana, ketipung, hingga angklung, serta instrumen modern seperti gitar, organ, piano, dan biola.

Koreografer Gemilang & Semangat Mengajar Hingga Akhir Hayat
Jejak prestasi yang diukir bapak dari 6 orang anak ini, tidak sekadar di tingkat lokal. Pada tahun 1984, bertindak sebagai koreografer tarian kontingen daerah, karya ciptanya berhasil menyabet Juara 1 Lomba Tari se-Indonesia, sebuah capaian yang sangat mengharumkan nama Kabupaten Berau dan Kalimantan Timur di panggung nasional.

Bagi Adji Rasman, mengajarkan seni adalah panggilan jiwa yang melampaui usia. Kendati beberapa bulan terakhir almarhum sudah mengurangi aktivitas di Museum dan Keraton Gunung Tabur karena faktor fisik, pintu rumahnya selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin belajar.

Sebagaimana disampaikannya oleh sang istri, Ibu Norasyikin, hanya dua hari sebelum wafat—dalam kondisi sakit yang melanda— sebelumnya Pak Rasman masih menerima kunjungan warga dari Sangatta di kediamannya di Gunung Tabur. Dengan penuh kesabaran masih memberikan pengajaran teori hingga praktik gerak Tari Jappin Berau secara langsung. Dedikasi ini menegaskan bahwa seni telah menyatu penuh dalam tubuhnya hingga hembusan napas terakhir.

“Tubuh Yang Mengingat”: Penghargaan dan Lifetime Achievement
Dedikasi tanpa henti selama kurang lebih 70 tahun tersebut membuahkan apresiasi yang mendalam dari berbagai pihak:
1.Ibadah Haji dari Pemkab Berau (Tahun 2000): Pemerintah Kabupaten Berau di bawah kepemimpinan Bupati H. Makmur HAPK melepaskan apresiasi atas pengabdian kebudayaan Pak Rasman dengan memberangkatkannya menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah.

2.Lifetime Achievement Art (Hari Tari Dunia 2025): Pada 29 April 2025 lalu, bertepatan dengan Hari Tari Dunia, lembaga seni Tepian Kolektif dan Ruang Perupa Berau Hid’Art Project mengugerahkan Lifetime Achievement Art kepada Adji Rasmansyah dalam malam perayaan bertajuk Sidik Sedayang di Tanjung Redeb.

Ketua Tepian Kolektif, Primadana Afandi, kala itu menegaskan:
“Sidik Sedayang merupakan sebuah ruang perayaan, pembelajaran, dan penghormatan terhadap seorang guru tari yang tidak hanya menciptakan dan mengajarkan gerak. Tetapi juga merawat ingatan kolektif dan memperkaya pemahaman budaya secara kreatif.”

Acara malam penganugerahan bertema “Tubuh Yang Mengingat: Dari Guru ke Generasi” tersebut ditandai dengan pemutaran film dokumenter pendek sosok Adji Rasmansyah serta peluncuran Zine dan modul ajar Jappin Sidayang, sebagai fondasi agar pengetahuan dan warisan tari Pak Rasman terus berdaya di tangan generasi muda.

Seniman Syafrudin Ithur juga memberikan komentarnya, ” Beliau seniman kawakan, mendedikasikan dirinya untuk seni di Kabupaten Berau, kiprahnya dalam seni itu sudah keliling, beliau orang baik, beberapa kali mendapatkan penghargaan dari Pemerintah dan pengiat seni,”

Selamat Jalan, Sang Maestro
Kini, fisik sang maestro telah beristrirahat dengan tenang di bumi Gunung Tabur. Tabuhan rebana dan petikan sape yang biasa mengiringi gerak tariannya kini menyisakan keheningan. Namun, modul ajar, ingatan kolektif, dan ribuan murid yang telah menyerap ilmu dari jemarinya akan terus menjaga Tari Jappin Berau tetap hidup dan mengakar.

Selamat jalan, Adji Rasmansyah. Terima kasih atas setiap peluh, ilmu, dan rasa cinta yang telah engkau persembahkan untuk seni dan budaya Berau. Namamu terpatri abadi dalam sejarah kebudayaan Kalimantan Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.