Ratusan Ikan Karamba Mati Mendadak di Bujangga, Diskan Berau Ungkap Dugaan Pencemaran Limbah

oleh -18 views
Tim dari Dinas Perikanan di lokasi keramba H.Basri. foto dok Diskan Berau

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau bergerak cepat menanggapi laporan kematian ratusan ekor ikan secara mendadak di kawasan Bujangga, Kecamatan Tanjung Redeb. Dalam kurun waktu tiga hari, sekitar 500 ekor ikan di keramba milik warga setempat, H. Basri, dilaporkan mati dan sempat menggegerkan warga sekitar.

Kepala Diskan Berau, H. Abdul Majid, S.Pi., M.Si., melalui Kepala Bidang Budidaya, Budiono, menjelaskan bahwa hasil peninjauan lapangan menunjukkan insiden kematian ikan tersebut lebih spesifik dipicu oleh penurunan kualitas perairan setempat.

Letak keramba milik H. Basri yang berada persis di jalur aliran pembuangan limbah rumah tangga diduga menjadi faktor utama. Kondisi tersebut menyebabkan tingkat keasaman (pH) dan kadar Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen / DO) anjlok di bawah ambang batas baku mutu air yang dipersyaratkan.

“Kemungkinan besar karena limbah rumah tangga, sehingga menyebabkan pH dan DO cukup rendah di bawah baku mutu air yang dipersyaratkan,” ujar Budiono.

Menyikapi fenomena ini di tengah musim kemarau panjang, Diskan Berau telah menerbitkan Surat Edaran Kepala Dinas tentang Mitigasi Dampak Kemarau Panjang Terhadap Perubahan Kualitas Air bagi Pembudidaya Keramba Nomor 500.5.3/493/DISKAN tertanggal 8 September 2026.

Keramba H.Basri di Bujangga

Terkait fenomena perubahan warna air sungai menjadi hijau yang sempat dikhawatirkan warga, Budiono menyebutkan bahwa kondisi tersebut masih berada dalam batas toleransi. Warna hijau terpantau mulai dari perairan Sungai Kelai hingga perbatasan Jembatan Sambaliung, serta Sungai Berau sampai muara Kampung Samburakat.

Hasil pengujian lapangan (in situ) mengindikasikan tingginya kadar fosfat memicu pertumbuhan fitoplankton meningkat drastis. Kombinasi musim kemarau serta mengecilnya debit dan volume aliran air turut mempercepat pertumbuhan plankton tersebut.

“Selama warna air tidak hijau pekat dan berbau—yang menandakan racun akibat kematian plankton secara massal—biasanya tidak memicu kematian massal pada ikan,” jelasnya.

Budiono menambahkan, jika kematian ikan disebabkan oleh wabah penyakit, biasanya akan diawali dengan gejala fisik tertentu pada tubuh ikan. Sementara itu, apabila dipicu penurunan kualitas air secara ekstrem, ikan baik di dalam maupun di luar keramba seharusnya ikut mati. Namun dalam kasus ini, kematian ikan bersifat spasial atau hanya terpusat di satu titik saja. Tampak ikan ikan pada keramba lainya tidak mengalami kematian.

Lanjut Budiono, kematian ikan yang terjadi bisa jadi tidak hanya disebabkan oleh perubahan kualitas air yang ada akan tetapi banyak faktor yang mempengaruhi seperti kebersihan jaring, padat tebar tinggi, cara pemberian pakan yang salah sehingga pada kesempatan yang ada Dinas Perikanan juga mengedukasi pembudidaya yang terdampak terkait mitigasi dan penanganan yang ada seperti pemberian imunostimulan pada pakan, pergantian jaring pemeliharaan, pengurangan padat tebar dan pemberian aerasi pada petak pemeliharaan pada saat DO rendah.

(adv/kom26/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.