Perjalanan Nursalim Mengembangkan Kakao Bersama PT Berau Coal

oleh -291 views

GUNUNG TABUR, DIMENSINEWS — Bagi Nursalim, kebun bukan sekadar tempat menanam. Dari sebidang tanah di Kampung Maluang, pria berusia 40 tahun itu perlahan membangun sumber penghidupan bagi istri dan tiga anak perempuannya yang bernaung di sebuah rumah panggung sederhana.

Lebih dari dua dekade Nursalim menggantungkan hidupnya sebagai petani. Selama itu pula, ia lebih akrab dengan tanaman hortikultura dan sayur-sayuran. Keinginannya untuk menanam kakao sempat tertahan bertahun-tahun lamanya karena keterbatasan modal untuk membeli bibit dan sarana pendukung lainnya.

Hingga pada 2025, kesempatan itu terbuka melalui Program Pengembangan Kakao yang diinisiasi oleh PT Berau Coal. Program ini merupakan bagian dari pilar Ekonomi dalam Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), yang bertujuan mendukung transformasi ekonomi pascatambang sekaligus menjadikan kakao sebagai salah satu komoditas unggulan Kabupaten Berau.

Melalui program tersebut, Nursalim menerima 800 bibit kakao, pupuk, dolomit, obat pengendali hama, dan kompos. Ia juga dibekali bibit alpukat, kelapa, dan petai sebagai tanaman penaung, serta mendapatkan pelatihan melalui sekolah lapang kakao untuk memperdalam teknik budidaya yang baik.

“Saya sangat terbantu dengan adanya bantuan dari Berau Coal. Kami yang termasuk golongan petani bawah belum mampu untuk membeli bibit kakao, pupuk, dan lain-lain,” ujar Nursalim.


Pertumbuhan Konsisten dan Pertanian Terpadu

Sepuluh bulan berselang, tanaman kakao Nursalim tumbuh subur dan mulai memperlihatkan tanda-tanda berbuah. Meski demikian, buah pada tanaman muda tersebut harus dipangkas agar batangnya cukup kuat menopang pertumbuhan jangka panjang.

Sambil menunggu kakao memasuki masa produktif, Nursalim memaksimalkan lahannya seluas setengah hektare dengan menanam jagung sebagai sumber pendapatan sementara. Hasilnya pun nyata; dalam kurun waktu sepuluh bulan, ia telah empat kali panen dengan rata-rata 40 karung setiap kali panen.

Tidak berhenti di situ, Nursalim menerapkan konsep pertanian terpadu (integrated farming). Ia memanfaatkan kotoran dari kambing milik tetangganya sebagai pupuk organik untuk tanaman kakao, sementara daun dari tanaman penaung digunakan sebagai pakan ternak. Selain itu, ia juga mengembangkan budidaya lele jumbo dari bantuan 1.000 benih yang diberikan oleh PT Berau Coal. Hasil penjualan lele tersebut diputar kembali untuk membeli pakan dan menambah 3.500 bibit ikan baru.

“Kalau kita konsisten, sebenarnya bantuan itu cukup sekali diberikan dan kita bisa kembangkan sendiri, tidak harus dibantu terus-menerus,” tuturnya yakin.

Menuju Kemandirian Petani Berau

Bagi Nursalim, kemandirian adalah muara dari seluruh proses yang dijalaninya. Ia mengapresiasi pendampingan berkelanjutan dari tim lapangan PT Berau Coal yang aktif memantau pertumbuhan tanaman dan kebutuhan petani di lapangan.

Melihat kondisi tanah di Berau yang dinilainya sangat subur dan mendukung, ia optimistis komoditas kakao memiliki masa depan yang cerah. Berdasarkan pengalamannya bertani di luar daerah, pertumbuhan kakao di Berau dalam usia sepuluh bulan menunjukkan perkembangan yang jauh lebih cepat.

Kini, dengan semangat ketekunan dan konsistensi, Nursalim mengajak masyarakat Berau lainnya untuk tidak ragu melangkah dan membudidayakan kakao demi masa depan ekonomi yang lebih mandiri.

(adv/bc26/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.