Kajian Fikih Wanita Kaltim: Sholat Bukan Sekadar Gerakan, tetapi Jalan Mengendalikan Emosi

oleh -16 views
Kajian rutin bulanan khusus wanita di Masjid Pemprov Kaltim

SAMARINDA, DIMENSINEWS – Sholat semestinya tidak berhenti sebagai rutinitas ibadah yang ditunaikan lima kali sehari. Ibadah tersebut diharapkan mampu menghadirkan ketenangan hati sekaligus tercermin dalam perilaku dan akhlak seseorang.

Pesan itu mengemuka dalam Kajian Fikih Wanita Provinsi Kalimantan Timur bertajuk “Sudah Sholat, Kok Masih Emosi?” yang digelar Jumat (25/9/2026) pagi di Masjid Nurul Mukminin Pemprov Kalimantan Timur.

Kajian yang dimulai pukul 08.30 WITA tersebut menghadirkan Ustadzah Hayati Fashihah, Lc., MA sebagai pemateri dan terbuka bagi seluruh muslimah.

Dalam kajiannya, Ustadzah Hayati mengingatkan bahwa sholat merupakan ibadah wajib yang diperintahkan Allah dan memiliki fungsi penting dalam membentuk perilaku manusia. Salah satunya sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Karena itu, seseorang yang rajin melaksanakan sholat tetapi masih mudah marah, sulit mengendalikan emosi atau mudah menyakiti orang lain perlu melakukan evaluasi terhadap kualitas ibadahnya.

Menurutnya, bisa jadi sholat yang dilakukan selama ini baru sebatas gerakan fisik dan ucapan lisan. Sementara hati dan pikiran belum sepenuhnya hadir menghadap Allah. Bahkan, bisa saja belum ada kesadaran kuat untuk menjadikan sholat sebagai bagian dari proses memperbaiki akhlak.

Sholat seharusnya tidak hanya mengubah posisi tubuh, tetapi juga mengubah sikap.

Ustadzah Hayati menjelaskan, terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan seseorang belum merasakan ketenangan dan perubahan perilaku meskipun rutin melaksanakan sholat.

Di antaranya sholat yang dilakukan secara tergesa-gesa, kurang menghadirkan hati, belum memahami makna bacaan dalam sholat, serta kondisi tubuh dan pikiran yang sedang mengalami kelelahan atau tekanan.

Faktor psikologis seperti stres dan kesulitan mengendalikan diri juga dapat berpengaruh terhadap respons seseorang ketika menghadapi persoalan.

Selain itu, kebiasaan dan lingkungan tempat seseorang tumbuh juga tidak bisa diabaikan. Pola pendidikan sejak kecil yang terbiasa dengan kekerasan, misalnya, dapat membentuk pola respons emosional yang kemudian terbawa hingga dewasa.

Karena itu, memperbaiki kualitas sholat perlu berjalan bersamaan dengan ikhtiar memperbaiki diri dan akhlak.

Sholat dapat menjadi momentum untuk berhenti sejenak dari kesibukan, mengingat Allah, memahami kembali bacaan yang dilafalkan dan melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.

Jamaah Apresiasi Penyampaian Materi

Salah seorang jamaah, Irma Surayya Hanum, mengapresiasi penyampaian materi yang dinilainya mudah dipahami.

“Bagus, cara penyampaiannya jelas, padat dan lembut,” ujarnya.

Menurutnya, cara penyampaian yang jelas namun tetap lembut membuat materi kajian lebih mudah diterima dan direnungkan oleh peserta.

Sementara itu, Marliana Wahyuningrum, selaku inisiator kegiatan pengajian bulanan, mengungkapkan rasa syukurnya karena jumlah peserta yang mengikuti kajian terus bertambah.

“Alhamdulillah, peserta pengajian semakin bertambah. Kami bersyukur kegiatan ini mendapat sambutan yang baik. Harapannya, kajian ini semakin bermanfaat untuk umat, bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga mendorong kita untuk mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” kata Marliana.

Ia berharap pengajian bulanan tersebut dapat terus menjadi ruang bagi muslimah untuk memperkuat pemahaman agama, mempererat silaturahmi sekaligus melakukan refleksi diri.

Menurutnya, kajian keislaman akan semakin bermakna apabila ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang pengajian, tetapi dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan keluarga maupun lingkungan sosial.

Kajian tersebut pada akhirnya mengajak peserta melihat kembali makna sholat secara lebih mendalam. Ketika seseorang berdiri menghadap Allah, bukan hanya tubuh yang diharapkan hadir, tetapi juga hati dan pikiran.

Sebab, ketenangan yang dicari melalui sholat bukan semata-mata dirasakan selama berada di atas sajadah, melainkan diharapkan tercermin dalam kemampuan menghadapi persoalan, mengendalikan emosi dan memperlakukan orang lain dengan akhlak yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.