Ubah Sampah Jadi Rupiah: DPRD Berau Suarakan Revolusi Pengolahan Limbah Demi Genjot PAD

oleh -124 views

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Paradigma lama yang menganggap sampah sebagai beban lingkungan mulai digeser oleh DPRD Kabupaten Berau. Sektor limbah kini dipandang sebagai “tambang emas” tersembunyi yang, jika dikelola dengan teknologi tepat, mampu menjadi sumber baru Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami, menyoroti potensi besar pemanfaatan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF). Teknologi ini mampu menyulap sampah padat menjadi bahan bakar industri berkualitas, sekaligus menjadi solusi konkret bagi keberlangsungan lingkungan di Bumi Batiwakkal.


Mencegah “Bom Waktu” di TPA

Sutami menegaskan bahwa pola pembuangan sampah konvensional dari hulu ke hilir harus segera ditinggalkan. Membuang sampah langsung ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tanpa pemilahan hanya akan memperpendek umur operasional lahan dan menciptakan masalah besar di masa depan.

“Sampah tidak boleh lagi sekadar diangkut lalu dibuang begitu saja ke TPA. Itu akan memperpendek umur TPA dan bisa menjadi bom waktu karena lahan akan cepat penuh. Harus ada proses penyaringan sejak dini,” tegas Sutami.

Ia menyarankan agar sektor-sektor besar, seperti perhotelan, wajib memiliki sistem pemilahan mandiri. Dengan memisahkan sampah organik, anorganik yang bisa didaur ulang, hingga residu akhir, volume beban yang masuk ke TPA akan berkurang drastis.


Kolaborasi Strategis dengan Pihak Ketiga

Sadar bahwa pengelolaan sampah skala besar membutuhkan investasi dan keahlian khusus, Sutami mendukung penuh langkah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) untuk menggandeng mitra profesional atau pihak ketiga melalui skema konservasi dan pengolahan.

Menurutnya, kerja sama ini bukan hanya soal kebersihan, tapi juga soal hitung-hitungan ekonomi yang menguntungkan daerah.

“Kami sangat mendukung kerja sama pengolahan sampah ini. Jika dikelola secara serius, residu yang diolah kembali punya nilai jual tinggi dan bisa masuk ke kas daerah (PAD). Kalau kita bergerak dalam volume kecil memang berat, maka kolaborasi adalah kuncinya,” tambahnya.


Fokus pada Keberlanjutan, Bukan Sekadar Retribusi

Meski memiliki potensi pendapatan yang menggiurkan, Sutami mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru membebani mitra dengan target retribusi yang tinggi di awal kerja sama. Baginya, tujuan utama saat ini adalah memastikan sistem pengolahan berjalan stabil dan TPA tidak overload.

DPRD menyarankan adanya masa evaluasi selama satu hingga dua tahun pertama untuk melihat realitas operasional di lapangan.

“Intinya, kita ingin mitra mengelola sampah dengan standar yang baik terlebih dahulu. Fokus kita adalah memperpanjang umur TPA. Peluang PAD itu jelas ada, tapi biarkan sistemnya matang dulu di tahun pertama dan kedua, baru kita bicara kontribusi PAD yang realistis,” pungkas Sutami.

(adv/dprd26/ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.