Kartini di Lorong-Lorong Kesembuhan: Dedikasi Tanpa Batas di RSUD Abdul Rivai

oleh -641 views
Petugas berkebaya di RSUD Abdul Rivai. foto Helda Mildiana Dimensinews.id

Oleh : Helda Mildiana

SELASA 21 April 2026, suasana di RSUD Abdul Rivai, Tanjung Redeb, Berau, tampak berbeda dari hari biasanya. Di balik kesibukan menangani pasien dan aroma khas rumah sakit, terselip keanggunan kain kebaya dan baju tradisional yang dikenakan oleh para petugas medis. Bukan sekadar seremonial, ini adalah bentuk penghormatan bagi semangat Raden Ajeng Kartini yang kini berdenyut dalam jiwa para perempuan penyembuh.
Bagi mereka, emansipasi bukan hanya soal kesetaraan, melainkan tentang pengabdian tulus sebagai “pelayan masyarakat.” Mari mengenal lebih dekat tiga sosok Kartini modern yang mendedikasikan hidupnya demi kesehatan masyarakat Berau.

Dr. Hj. Nurmin Baso M, Sp.Rad

Dr. Hj. Nurmin Baso M, Sp.Rad: Warisan Semangat dalam Balutan Baju Bodo
Mengenakan stelan modifikasi Baju Bodo, dr. Nurmin Baso menyapa pasiennya dengan senyum yang tak pernah pudar. Sudah 32 tahun lamanya ia mengabdi. Perjalanannya dimulai sebagai dokter umum, hingga kini ia memantapkan diri sebagai Dokter Spesialis Radiologi.

“Ibu Raden Ajeng Kartini memotivasi kaum wanita untuk lebih berperan,” ungkapnya lembut. Bagi dr. Nurmin, peran itu mencakup segalanya: rumah tangga, pendidikan anak, hingga pemerintahan. Rasa syukurnya mengalir kepada Allah SWT, orang tua, dan tentu saja sang pejuang emansipasi, Kartini.

Semangat dr. Nurmin ternyata menular secara alami. Tanpa paksaan, kedua putranya mengikuti jejak sang ibu sebagai dokter spesialis jantung dan spesialis anak. Kini dia bersama seorang puteranya yang dokter spesialis jantung bertugas di RSUD Abdul Rivai. Sementara seorang puteranya yang dokter spesialis anak masih praktek di luar kota Berau.

Meski satu tahun lagi ia akan memasuki masa pensiun sebagai PNS, dr. Nurmin menegaskan bahwa kecintaannya pada profesi ini tak akan berakhir. Ia akan terus berkiprah selama masyarakat membutuhkannya.

Dr. Nasaria Ransa L , bersama staf yang mendampinginya di poli umum

Dr. Nasaria Ransa L: Setia di Bumi Berau
Wajahnya adalah simbol ketenangan di Poli Umum RSUD Berau. Sejak tahun 1998, dr. Nasaria Ransa memilih untuk tidak berpindah tempat. Saat banyak orang mendamba hiruk-pikuk kota besar dengan fasilitas mewah, ia justru jatuh hati pada keramahan dan ketenangan Kabupaten Berau.

“Masyarakat di sini ramah dan familiar. Kondisi kotanya enak, tidak macet,” tuturnya yang hari itu tampil anggun dengan kebaya merah bermotif bunga.

Di era digital, dr. Nasaria menekankan pentingnya literasi bagi perempuan. Sebagai ibu, ia mengingatkan agar para wanita “melek teknologi” untuk memantau tumbuh kembang anak secara bijak. Di atas meja praktiknya, ia menghadapi beragam watak pasien, namun prinsipnya tetap satu: pelayanan utama agar yang sakit kembali sehat.

Dr. Ari Septiani, Sp.N

Dr. Ari Septiani, Sp.N: Kemandirian adalah Kunci
“Dokter itu pelayan masyarakat,” tegas dr. Ari Septiani dengan lugas. Sebagai spesialis saraf yang baru beberapa tahun mengabdi di RSUD Abdul Rivai, ia membawa energi kemandirian yang kuat.

Baginya, pendidikan adalah senjata utama perempuan agar tidak bergantung sepenuhnya pada laki-laki, bahkan saat sudah menjadi ibu rumah tangga. Menjadi dokter saraf adalah murni panggilannya sendiri, bukan sekadar memenuhi ambisi orang tua. Memiliki skill adalah cara dr. Ari mendaulat dirinya untuk meraih apa yang dicita-citakan.

Penutup: Cahaya di Ujung Stetoskop
Tiga sosok ini adalah bukti nyata bahwa mimpi Kartini telah mekar sempurna. Melalui tangan-tangan dr. Nurmin, dr. Nasaria, dan dr. Ari, kita melihat bahwa pengabdian wanita di dunia medis bukan hanya soal teknis pengobatan, melainkan tentang empati, ketangguhan, dan cinta yang tak terbatas kepada sesama.
Selamat Hari Kartini untuk seluruh pejuang kesehatan. Teruslah menjadi cahaya yang menyembuhkan di ujung stetoskop.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.