Memikat Wisatawan Lewat Tradisi, Wabup Gamalis Jaga Eksistensi Budaya Memukat Nelayan Bajau

oleh -27 views
Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat turun langsung membaur bersama nelayan dalam aktivitas memukat ikan di kawasan Gusung Sanggalau, Selasa (13/5/2026). foto Prokopim

PULAU DERAWAN, DIMENSINEWS – Pesona Pulau Derawan tidak hanya terletak pada keindahan bawah lautnya, tetapi juga pada denyut nadi kehidupan nelayan tradisionalnya yang sarat akan kearifan lokal. Hal ini dirasakan langsung oleh Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat turun langsung membaur bersama nelayan dalam aktivitas memukat ikan di kawasan Gusung Sanggalau, Rabu (13/5/2026).

Mengenakan pakaian santai, Wabup Gamalis ikut serta dalam prosesi memukat ikan tuna kecil yang dalam bahasa suku Bajau akrab disebut dengan sebutan ikan “Sobat”. Aktivitas yang dimulai sejak pukul 16.00 WITA hingga menjelang waktu Isya ini memperlihatkan sisi lain dari ketangguhan masyarakat pesisir Bumi Batiwakkal.

Tradisi yang Menghidupi

Proses memukat dilakukan secara berkelompok dengan menebar jaring mengelilingi gusung (gundukan pasir di tengah laut). Setelah kawanan ikan terjebak, para nelayan bersama Wabup Gamalis bahu-membahu menarik pukat dari perairan dangkal menuju bibir pantai.

“Suasana kebersamaannya sangat luar biasa. Kita bisa melihat bagaimana masyarakat pesisir bekerja keras dan saling bekerja sama untuk menjemput rezeki di laut,” ujar Gamalis di sela-sela aktivitas tersebut

Salah seorang nelayan setempat mengungkapkan bahwa dalam kondisi beruntung, sekali memukat mereka bisa meraup hingga 500 kilogram ikan tuna segar. Ikan hasil tangkapan ini kemudian dijual seharga kurang lebih Rp25 ribu per kilogram, yang menjadi sandaran ekonomi utama bagi banyak keluarga di Kepulauan Derawan.

Atraksi Wisata Berbasis Budaya

Bagi Wabup Gamalis, aktivitas tradisional ini bukan sekadar mata pencaharian, melainkan aset wisata budaya yang sangat bernilai. Ia berkomitmen menjaga kearifan lokal ini agar proses memukat di atas pasir putih dengan latar belakang laut biru menjadi atraksi yang memikat wisatawan mancanegara maupun domestik.

“Tradisi memukat ini harus kita jaga eksistensinya. Selain menopang ekonomi warga, ini adalah atraksi wisata bahari yang memperlihatkan orisinalitas kehidupan masyarakat Bajau di Derawan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa musim ikan “Sobat” yang biasanya berlangsung antara bulan Maret hingga Oktober, merupakan momentum tepat untuk mengemas paket wisata edukasi dan budaya bagi para pelancong yang ingin merasakan pengalaman autentik.
Sinergi Pariwisata dan Perikanan

Pemkab Berau terus memantapkan langkah agar sektor pariwisata dan perikanan dapat berjalan beriringan tanpa saling merugikan. Kehidupan asli nelayan dinilai mampu memperkuat citra Pulau Derawan sebagai destinasi kelas dunia yang tetap membumi.

“Harapan saya, ekosistem laut kita tetap terjaga agar ikan tetap melimpah. Jika laut sehat, nelayan sejahtera, maka pariwisata kita akan semakin diminati karena keindahan alam dan budayanya tetap utuh,” pungkas Gamalis.

(adv/pem26/pro/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.