Berau Bidik Status ‘UNESCO Global Geopark’ untuk Dongkrak Pariwisata Dunia

oleh -646 views
Presentasi Laporan Pendahuluan Kajian Rencana Aksi Daerah (RAD) Pengelolaan Geopark Kabupaten Berau Tahun 2026–2032 di Ruang Rapat RKPD Bapelitbang, pada Jumat (19/6/2026) foto dok kominfo berau

TANJUNG REDEB. DIMENSINEWS – Pemerintah Kabupaten Berau mulai serius meretas jalan menuju era baru pasca-tambang. Melalui Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang), Pemkab Berau resmi memulai penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) Pengelolaan Geopark 2026–2032. Langkah strategis ini membidik sektor pariwisata berbasis konservasi sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi masa depan bumi Batiwakkal.

Dalam pertemuan yang digelar di Ruang Rapat RKPD Bapelitbang, Jumat (19/6/2026) pagi, pemerintah mengumpulkan data sekaligus mematangkan Laporan Pendahuluan Kajian RAD untuk memayungi pengelolaan Geopark Berau selama tujuh tahun ke depan.

Kepala Bapelitbang Berau, Endah Ernani Triariani, menegaskan bahwa cetak biru ini merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) untuk melakukan transformasi ekonomi secara radikal namun terukur.

“Kajian ini adalah langkah nyata kita untuk beralih secara bertahap dari ketergantungan sektor pertambangan yang finite (terbatas), menuju sektor pariwisata yang berkelanjutan,” jelas Endah.


Mengkapitalisasi Jasa Lingkungan Sangkulirang-Mangkalihat

Kabupaten Berau memiliki modal lanskap alam yang luar biasa, salah satunya adalah bagian dari kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Aset warisan geologi (geoheritage) inilah yang dinilai memiliki nilai jual tinggi untuk memikat wisatawan domestik maupun mancanegara jika dikelola dengan standar internasional.

Dalam menyusun strategi ini, Pemkab Berau menggandeng para pakar dari Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM). Kerja sama ini diharapkan mampu mengemas potensi ekologis Berau menjadi produk pariwisata premium yang ramah lingkungan.

Peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM, Destha Titi Raharjana, menekankan bahwa masa depan ekonomi Berau berada di atas permukaan tanah, bukan lagi di bawahnya.

“Kita ingin memastikan pengembangan Geopark tujuh tahun ke depan mengoptimalkan potensi jasa lingkungan. Berau harus mulai mandiri dan tidak lagi bergantung pada pengerukan sumber daya dari dalam bumi,” papar Destha.

Lebih jauh, dokumen RAD yang tengah disusun ini dirancang sebagai instrumen utama untuk mempercepat ambisi besar daerah: meraih predikat UNESCO Global Geopark. Status internasional tersebut diyakini akan otomatis menempatkan Berau dalam peta destinasi wisata dunia, bersanding dengan geopark global lainnya.

Agenda ini turut dihadiri oleh jajaran perangkat daerah terkait, Tim Pengelola Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Wilayah Berau, serta para akademisi lintas sektor.

Melalui sinergi ini, dokumen RAD 2026-2032 diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap administratif, melainkan kompas bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melahirkan program pariwisata yang terintegrasi, bernilai ekonomi tinggi, namun tetap mengedepankan asas konservasi.

(adv/kom26/ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.