Menolak Punah di Era Digital: Festival Bekudung Betiung Sukses, Jaga Eksistensi 263 Tahun Kampung Tumbit Dayak

oleh -12 views
Festival Bekudung Betiung di Kampung Tumbit Dayak. foto Toni Arman Dimensinews.id

SAMBALIUNG, DIMENSINEWS – Di tengah gempuran tren digital dan modernisasi yang kian masif, masyarakat Kampung Tumbit Dayak punya cara berkelas untuk menjaga jati diri mereka. Melalui gelaran akbar Festival Bekudung Betiung, sebuah selebrasi budaya tahunan sekaligus perayaan Hari Jadi Kampung Tumbit Dayak ke-263 sukses dibuka dengan meriah pada Kamis (25/6/2026).

Acara yang berlangsung di Kecamatan Sambaliung ini tidak hanya menjadi magnet bagi masyarakat lokal, tetapi juga dihadiri oleh sederet pejabat penting. Tampak hadir Wakil Bupati Berau, Ketua DPRD Berau, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, para pimpinan OPD, Forkopimda, Sultan Sambaliung dan Gunung Tabur, hingga para kepala kampung se-Kabupaten Berau.

Tak kalah sakral, para petinggi lembaga adat seperti Kepala Adat Suku Dayak Ga’ai, Kepala Adat Tanjung Batu, dan Kepala Adat Wahau juga turut mengawal jalannya ritual adat

Wakil Bupati Berau, Gamalis membuka Festival Bekudung Betiung. foto Toni Arman Dimensinews.id

Kepala Kampung Tumbit Dayak, Ahmad Jamlan, menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh pihak yang mendukung penuh gelaran ini. Ia menegaskan bahwa Festival Bekudung Betiung memiliki esensi yang jauh lebih dalam dari sekadar kalender tahunan atau hiburan semata.

“Di tengah derasnya arus digitalisasi dan modernisasi yang terus berkembang, kita tidak boleh melupakan akar rumput. Kami mengikuti kemajuan zaman, tetapi dengan membawa latar budaya yang menjadi jati diri masyarakat,” tegas Jamlan dengan optimis.

Bagi Suku Dayak Ga’ai, festival ini adalah wadah krusial untuk memperkenalkan identitas budaya kepada generasi Z dan Alpha, agar nilai-nilai luhur tersebut tetap hidup dan relevan di masa depan.

Multiplier Effect: Kerek Ekonomi dan Sorotan Daerah

Selain menjadi benteng pelestarian adat, festival ini terbukti membawa dampak positif yang nyata bagi ekosistem Kampung Tumbit Dayak. Berkat acara ini, perhatian dari pemerintah daerah, sektor swasta (dunia usaha), hingga masyarakat luas kini tertuju pada potensi kampung tersebut.

Meskipun demikian, Jamlan tidak menampik bahwa jalan menuju kampung modern yang mandiri masih memiliki tantangan.

Poin Aspirasi Pembangunan Kampung Tumbit Dayak:
1. Pengembangan kegiatan budaya berkelanjutan.
2. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung.
3. Akses infrastruktur dan fasilitas publik yang memadai.
4. Program pemberdayaan masyarakat yang intensif.

Sinergi Menuju Kampung Mandiri

Menutup sambutannya, Jamlan meyakini bahwa keterbatasan infrastruktur secara bertahap akan teratasi melalui kolaborasi pentahelix—sinergi kuat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan para pemangku kepentingan.

Dengan kolaborasi yang solid, Kampung Tumbit Dayak optimis mampu bertransformasi menjadi kawasan yang maju dan mandiri secara ekonomi, tanpa harus mengorbankan kearifan lokal yang telah mereka rawat selama 263 tahun.

(adv/kom26/ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.