Rawat Toleransi Multi-Etnis, Pagelaran Budaya Pancasila Day 2026 Meriahkan Bumi Batiwakkal

oleh -53 views
Pagelaran Budaya Pancasila Day 2026, Minggu (28/6/2026) di Panggung Barintak, Tepian Jalan Ahmad Yani, Tanjung Redeb.foto Toni Arman Dimensinews.id

TANJUNG REDEB – Panggung Barintak di kawasan Tepian Jalan Ahmad Yani, Tanjung Redeb, mendadak riuh oleh warna-warni busana adat dan alunan musik tradisional, Minggu (28/6/2026). Kemeriahan ini menandai dibukanya Pagelaran Budaya Pancasila Day 2026, sebuah ajang gelar seni nusantara yang sukses menyatukan keberagaman etnis di Kabupaten Berau.

Mengusung tema “Bersatu dalam keberagaman, melestarikan budaya, mengokohkan Pancasila di Bumi Batiwakkal”, acara ini menjadi ruang perjumpaan budaya yang inklusif.

Hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati Berau Gamalis, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Berau, Kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur, jajaran Forkopimda, OPD, serta perwakilan paguyuban suku, organisasi kepemudaan, dan tokoh masyarakat.
Kolaborasi Dua Lembaga untuk Hidupkan Seni Nusantara

Agenda akbar yang memasuki pelaksanaan tahun kedua ini merupakan buah kolaborasi apik antara Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Berau bersama Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Berau.

Ketua Panitia, Kodifasius Apung, menjelaskan bahwa momentum peringatan Hari Lahir Pancasila sengaja dipilih sebagai pemantik untuk membumikan kembali ideologi negara melalui pendekatan yang lebih cair, yakni seni dan budaya.

“Pagelaran budaya ini dirancang sebagai ruang perjumpaan inklusif bagi seluruh paguyuban, suku, dan etnis, guna merawat toleransi, meningkatkan interaksi multi-etnis, mengikis sekat sosial, dan memperkokoh rasa persaudaraan,” ujar Kodifasius.

Melalui pendekatan sosiokultural, panitia merancang acara ini dengan tiga pilar tujuan utama: pertama Edukasi Generasi Mud dengan menanamkan dan mengaktualisasikan nilai Pancasila serta semangat Bhinneka Tunggal Ika kepada pelajar dan masyarakat umum. KEdua Panggung Ekspresi Bersama dengan menyediakan wadah bagi seluruh paguyuban suku di Berau untuk saling mengenalkan kekayaan budayanya demi mengikis prasangka sosial. Ketiga Ketahanan Strategis, yakni memperkuat komitmen seluruh elemen di Bumi Batiwakkal dalam menjaga kondusivitas, keamanan, dan keharmonisan dari potensi polarisasi.


Budaya Sebagai Jembatan Pengikis Ego Kelompok

Senada dengan hal tersebut, Ketua FPK Berau, Teddy Nanang Abay, menegaskan posisi FPK berdasarkan Permendagri Nomor 34 Tahun 2008 sebagai mitra strategis pemerintah dalam memantapkan pembauran kebangsaan.

Menurut Teddy, kemajemukan etnis di Berau adalah sebuah aset yang sangat berharga, namun menuntut perawatan yang konsisten.

“Kami menyadari betul bahwa kemajemukan etnis di Berau adalah kekayaan yang harus dijaga. Ia seperti intan yang harus terus dirawat dan dibersihkan dari debu-debu prasangka, radikalisme, maupun polarisasi sosial,” ungkap Teddy.

Ia menambahkan, seni dan budaya merupakan bahasa universal yang paling efektif untuk menyatukan hati masyarakat yang berbeda latar belakang.

“Ketika kita saling mengenal tarian, pakaian, dan adat suku lain, maka ego kelompok akan menurun. Rasa itu akan digantikan oleh rasa kagum dan rasa saling memiliki sebagai sesama anak bangsa yang bernaung di bawah payung Pancasila,” pungkasnya.

(adv/kom26/ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.