Memikat Mata di Bekudung Batiung 2026: Pesona Upak Nyamu, Busana Kulit Kayu Khas Dayak

oleh -21 views
Penutupan Festival Bekudung Betiung, Selasa (30/6/2026) foto Kominfo Berau.

SAMBALIUNG, DIMENSINEWS – Kemeriahan malam penutupan Festival Budaya Bekudung Batiung yang dirangkai dengan Hari Jadi Kampung Tumbit Dayak ke-263 berlangsung semarak di Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, Selasa (30/6/2026) malam.

Di tengah riuhnya pertunjukan seni, perhatian ratusan pengunjung justru tersedot oleh kehadiran sejumlah peserta yang mengenakan pakaian adat unik berbahan kulit kayu.

Busana tradisional yang dikenal sebagai Upak Nyamu atau Baju Nyamu ini sukses menjadi primadona acara. Sepanjang malam, para pemakai busana eksotis ini terus dipadati warga dan wisatawan yang mengantre untuk berswafoto bersama.


Warisan Leluhur yang Menolak Punah

Kampung Tumbit Dayak terus memperkuat posisinya sebagai salah satu episentrum wisata budaya unggulan di Kabupaten Berau lewat festival tahunan yang rutin digelar setiap bulan Juni ini. Di tengah gempuran modernisasi, masyarakat setempat terbukti konsisten menjaga warisan leluhur mereka—mulai dari kesenian, kuliner tradisional, kerajinan tangan, hingga urusan busana.

Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Upak Nyamu bukan sekadar pakaian biasa. Busana ini dibuat dari kulit pohon nyamu yang diolah secara tradisional:

Pemukulan: Kulit kayu dipukul-pukul hingga seratnya melar dan melunak.

Pengeringan: Serat kayu dijemur hingga kering dan membentuk lembaran kain alami.

Hasil Akhir: Menghasilkan bahan pakaian yang kuat, lentur, sekaligus nyaman saat dikenakan. (Di beberapa wilayah Kalimantan lain, busana berbahan serupa juga populer dengan nama Baju Sangkarut).

Filosofi Alam: Lebih dari sekadar estetika, Upak Nyamu menyimpan filosofi mendalam tentang keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Proses pembuatannya mencerminkan kearifan lokal masyarakat Dayak dalam memanfaatkan hasil hutan secara bijaksana tanpa merusak kelestarian lingkungan.


Magnet Wisata Sekaligus Edukasi Budaya

Kehadiran Upak Nyamu di festival ini terbukti menjadi media edukasi yang sangat efektif. Antusiasme penonton dari berbagai kalangan usia memperlihatkan bahwa baju adat mampu tampil atraktif dan memicu rasa penasaran publik.

Tak sedikit wisatawan yang sengaja berbincang dengan pemangku adat setempat untuk mengulik lebih dalam tentang sejarah, makna filosofis, hingga proses rumit di balik pembuatan selembar baju kulit kayu tersebut.

Melalui momentum Festival Budaya Bekudung Batiung 2026, eksistensi Upak Nyamu menegaskan bahwa identitas budaya Dayak yang sarat kreativitas dan penghormatan terhadap alam akan terus hidup, lestari, dan dikenal oleh generasi masa depan.

(adv/kom26/wnf/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.