Dari Berau ke Pentas Nasional

oleh -29 views
Fauzan Azim asal Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang dipercaya menjadi bagian dari tim fisioterapi nasional. foto dok

Kisah Fauzan Azim, Pahlawan Senyap di Balik Kebugaran Atlet Disabilitas Indonesia

Di balik gemerlap medali dan gemuruh tepuk tangan untuk Tim Nasional (Timnas) Disabilitas Indonesia, ada keringat yang tak tersorot kamera. Mereka adalah para tenaga medis—pahlawan senyap yang memastikan setiap otot, sendi, dan fisik para atlet berada pada performa puncaknya.

Salah satu sosok kunci di balik layar itu adalah Fauzan Azim, pemuda berusia 22 tahun asal Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang kini dipercaya menjadi bagian dari tim fisioterapi nasional.

Menempa Diri Lewat Jam Terbang

Perjalanan karier Fauzan di tingkat nasional tentu tidak diraih secara instan. Dedikasi ini dibentuk dari proses panjang sejak ia menempuh pendidikan S1 Fisioterapi di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Selama masa studi, Fauzan tak ragu melangkah ke lapangan untuk memperbanyak pengalaman praktis. Ia aktif menjadi relawan fisioterapi di berbagai ajang bergengsi, seperti:

DBL Basketball Regional Yogyakarta

Liga Remaja PSSI

Kejuaraan Marathon Internasional

“Sejak kuliah, saya sudah aktif mengikuti berbagai event nasional hingga internasional sebagai tenaga fisioterapi,” ujar Fauzan.

Menyerap Standar Internasional hingga Masuk Timnas

Kompetensi Fauzan kian teruji saat ia lolos seleksi program pertukaran pelajar di Mahidol University, Thailand—salah satu institusi kesehatan terkemuka di Asia Tenggara. Di sana, ia menyerap wawasan dan standar pelayanan fisioterapi bertaraf internasional.

Sekembalinya ke Tanah Air, modal keahlian tersebut mengantarkannya pada tanggung jawab yang lebih besar. Fauzan mendapat kepercayaan langsung dari Kepala Fisioterapi Timnas Disabilitas Indonesia untuk bergabung sebagai asisten fisioterapi dalam persiapan Kualifikasi Piala Dunia Disabilitas.

“Bagi saya, itu pengalaman yang sangat berharga karena bisa belajar langsung sekaligus menangani atlet-atlet nasional,” tuturnya penuh rasa syukur.


Membawa Persaj Jakarta Meraih Juara

Kiprah impresifnya terus berlanjut. Fauzan kemudian ditunjuk sebagai fisioterapis utama untuk klub Persatuan Sepakbola Amputasi Jakarta (Persaj Jakarta) dalam kompetisi Liga 1 Sepak Bola Amputasi Piala Menpora.


Berkat tangan dinginnya dalam penanganan cedera yang intensif serta pemeliharaan kebugaran fisik pemain secara berkala, ia berhasil menjadi bagian penting yang mengantarkan Persaj Jakarta meraih gelar juara pada turnamen tersebut.

Meski beroperasi di balik layar, Fauzan menegaskan bahwa peran tim medis dan fisioterapi memiliki kedudukan yang sejajar dengan pelatih maupun atlet dalam mengukir prestasi.

Lewat pengalamannya, Fauzan menyimpan harapan besar untuk tanah kelahirannya, Kabupaten Berau:

Rantai Kolaborasi: Mendorong keterlibatan aktif antara pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, lembaga pendidikan, klub olahraga, dan organisasi profesi untuk memperluas edukasi fisioterapi.

Ruang Bagi Generasi Muda: Meminta pemangku kepentingan membuka ruang lebih luas bagi tenaga kesehatan muda untuk berkontribusi.

Pentingnya Fisioterapi: Memahami bahwa fisioterapi bukan sekadar penyembuhan cedera, melainkan mencakup pencegahan, pemulihan, peningkatan kualitas hidup, hingga dukungan pencapaian prestasi.

Kiprah Fauzan Azim membuktikan satu hal: kontribusi besar bagi kemajuan daerah dan bangsa tidak hanya lahir dari mereka yang berlaga di tengah arena, melainkan juga dari dedikasi tulus para profesional di balik layar.

(Toni Arman/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.