Semarakkan Hari Jadi, Masyarakat Sasak Lombok Gelar Pentas Budaya Peresean

oleh -1,637 views
Para petarung (pepepadan) bertarung secara ksatria yang diiringi tabuhan gamelan khas Sasak. Tradisi ini menjunjung tinggi sportivitas, di mana para petarung yang usai bertarung akan saling berpelukan sebagai simbol persaudaraan. foto Toni Arman Dimensinews.id

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS — Pemerintah Kabupaten Berau memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya Pentas Budaya Peresean sekaligus peresmian Sanggar Seni Budaya Sasak Lombok. Acara meriah ini digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Berau ke-73 serta HUT ke-216 Kota Tanjung Redeb.

Lokasi di GOR Pemuda, Tanjung Redeb, kegiatan yang diinisiasi oleh Kerukunan Keluarga Sasak Lombok (KKSL) Kabupaten Berau ini berlangsung selama dua hari, mulai Jumat hingga Sabtu (25–26 September 2026). Perhelatan ini tidak hanya bertujuan mempererat tali silaturahmi antarwarga, tetapi juga memperkaya khazanah keberagaman budaya di Bumi Batiwakkal.

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Staf Ahli Bidang Keuangan dan Sumber Daya Manusia Setda Berau, Junaidi, menegaskan bahwa peresmian sanggar seni ini memiliki nilai strategis di tengah masyarakat yang majemuk.

“Sanggar ini tidak hanya menjadi wadah pelestarian tradisi, tetapi juga ruang edukasi bagi generasi muda agar tidak terasing dari akar budayanya di era modern,” ujar Junaidi di hadapan ratusan warga yang memadati lokasi acara.

Lebih lanjut, Junaidi menyampaikan bahwa atraksi seni tradisional berpotensi besar menjadi aset wisata budaya yang memperkuat daya tarik pariwisata Kabupaten Berau. Pemerintah daerah juga mengajak seluruh elemen warga Sasak Lombok untuk terus berkontribusi aktif dalam pembangunan serta merawat harmoni dalam keragaman.


Mengenal Sekilas Tradisi Peresean

Bagi masyarakat Lombok, Peresean bukan sekadar pertarungan ketangkasan biasa, melainkan sebuah seni bela diri tradisional yang sarat akan nilai historis. Dalam sejarahnya, Peresean dulunya merupakan ritual sakral yang dilakukan oleh para kesatria Suku Sasak untuk memohon hujan kepada Sang Pencipta pada musim kemarau panjang, sekaligus sebagai ajang uji nyali dan mental para prajurit sebelum turun ke medan perang. Dipersenjatai tongkat rotan (penjalin) dan pelindung kulit (perisai/ende), para petarung (pepepadan) bertarung secara ksatria yang diiringi tabuhan gamelan khas Sasak. Tradisi ini menjunjung tinggi sportivitas, di mana para petarung yang usai bertarung akan saling berpelukan sebagai simbol persaudaraan.

Datangkan Petarung Langsung dari Luar Berau
Ketua Panitia Pelaksana, Musaini, mengungkapkan bahwa acara ini terbuka untuk umum dan gratis bagi seluruh lapisan masyarakat. Guna menambah kemeriahan dan daya tarik, panitia secara khusus mendatangkan pepepadan profesional langsung dari luar daerah Kabupaten Berau.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah mempererat silaturahmi sesama warga Sasak dan Lombok di Berau. Kami memperkirakan keterlibatan peserta dan masyarakat yang hadir mencapai kurang lebih 220 orang setiap harinya,” jelas Musaini.

Kontribusi Nyata Masyarakat Sasak di Tanah Batiwakkal
Sementara itu, Ketua KKSL Kabupaten Berau, Haerudin, mengenang kembali jejak sejarah panjang keberadaan masyarakat Sasak di Berau yang telah terjalin sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Pada masa-masa awal, warga Sasak menjadi salah satu penggerak utama sektor pertanian sebagai penyokong ketahanan pangan lokal (beras), sebelum akhirnya berkembang dan berkontribusi di berbagai sektor mulai dari kehutanan, pertambangan, hingga pendidikan.

“Mari kita jadikan pagelaran seni dan budaya ini sebagai agenda rutin tahunan untuk melestarikan kebudayaan Sasak sebagai bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Berau. Kami berharap sinergi dan hubungan mutualisme antara masyarakat Sasak dan pemerintah daerah terus terjalin erat,” pungkas Haerudin penuh optimisme.

(adv/pem26*/ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.