Dari Goresan Canting hingga Pasar Dunia: Batik Berau Menjadi “Brosur Berjalan” Pariwisata

oleh -170 views
Yuli Eka Sari, pembatik dan pemilik Rumah batik Ulin di Gang Amal, Tanjung Redeb. foto dok

TANJUNG REDEB — Setiap goresan canting di atas sehelai kain bukan sekadar torehan malam dan warna. Di Kabupaten Berau, ia adalah lembar sejarah, wujud cinta tanah air, sekaligus narasi hidup yang menceritakan keindahan alam “Bumi Batiwakkal”. Momentum Hari Batik Nasional menjadi penanda penting bagaimana geliat industri batik lokal dalam satu dekade terakhir melesat pesat, dikenal luas dari skala nasional hingga menembus batas negara.

Kini, keberadaan batik lokal di Berau tidak lagi dipandang sekadar pelengkap seragam dinas atau busana formal acara kedaerahan semata. Wastra khas daerah ini telah bertransformasi menjadi representasi kebanggaan identitas kultural yang melekat kuat di hati masyarakat.

Putri Maluang Batik , yang merupakan rumah batik dari Kampung Maluang, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, pada Festival Batik Nusantara yang di gelar di hotel Luminor Jakarta beberapa waktu lalu. foto dok

Kalimantan Timur tampil mempesona dengan fashion show batik dan lomba busana batik nusantara pada Festival Batik Nusantara yang di gelar di hotel Luminor Jakarta, beberapa waktu lalu. foto dok[/caption]
Dari Lokal ke Panggung Global: Jejak Batik Puteri Maluang
Kisah sukses perajin lokal membuktikan bahwa mahakarya Berau layak disandingkan di kancah global. Adalah Puteri Arofah, pemilik Rumah Batik Puteri Maluang, yang baru saja sukses merampungkan pengiriman produk batiknya hingga ke Australia dan Kanada. Keberhasilan menembus pasar internasional ini turut difasilitasi oleh Bank Indonesia.

Yang membuat batik buatan Puteri Maluang kian istimewa adalah konsistensinya dalam mengeksplorasi penggunaan pewarna alam. Meski sebagian pesanan masih menggunakan warna sintetis demi memenuhi selera dan permintaan konsumen yang beragam, inovasi pewarnaan ramah lingkungan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pencinta fesyen global.

Simbol Filosofi dan “Brosur Berjalan” Wisata
Antusiasme warga Berau terhadap produk buatan perajin lokal menunjukkan tren yang luar biasa positif. Hampir di setiap event atau kegiatan daerah, masyarakat selalu bangga mengenakan seragam berbalut batik khas Berau.

Corak dan ragam hias yang disematkan sarat akan filosofi kearifan lokal. Mulai dari motif burung walet, penyu hijau, hingga ubur-ubur tanpa sengat khas Danau Kakaban. Ketika dikenakan, motif-motif eksotis ini menghadirkan kelekatan emosional tersendiri bagi pemakainya.

Seperti yang diungkapkan oleh Yuli Eka Sari, S.Pd, pemilik Rumah Batik Ulin. Menurutnya, setiap helai kain batik sejatinya bertindak layaknya “brosur berjalan”.

“Tanpa memerlukan sepatah kata pun, motif-motif ini memamerkan daya tarik Kepulauan Derawan, Maratua, Danau Labuan Cermin, hingga ragam ekowisata lainnya,” ujar Yuli. Ketika kain ini dikenakan dalam forum nasional, pertemuan antardaerah, atau saat melancong ke luar negeri, keindahannya secara alami memancing rasa ingin tahu publik luar untuk mengenal dan berkunjung langsung ke Berau.

Shodik bersama Sri Suparni Ketua Bidang Manajemen Usaha Dewan Kerajinan Nasional, yang juga istri dari Bahlil Lahadalia. Shodik saat ini mengerjakan batik pesanan Istri Bahlil.

Semangat Pengrajin dan Penggerak Ekonomi Kreatif
Hal senada juga dirasakan oleh Mochammad Shodik, pembatik sekaligus pemilik Batik Mosho Berau. Menurutnya, antusiasme warga lokal yang bangga mengenakan batik buatan perajin sendiri menjadi suntikan semangat terbesar untuk terus berinovasi.

“Warga sangat antusias dan bangga mengenakan batik khas daerah. Keuntungan ini menjadi pelecut semangat kami para perajin untuk terus berinovasi memproduksi batik daerah yang khas dan berkualitas,” ungkap Shodik.

Geliat minat yang konsisten ini memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan sektor UMKM di Berau. Dukungan kolaboratif antara pemerintah daerah, perajin, dan masyarakat yang menjadikan batik sebagai busana pilihan utama, telah menempatkan Batik Berau mantap berdiri sebagai simbol kemandirian budaya sekaligus motor promosi daerah yang berdaya saing tinggi.

Di tangan para perajin lokal yang gigih dengan goresan karya mereka, Batik Berau kini terbang mengepakkan sayapnya—membawa pesona alam Bumi Batiwakkal untuk dikenal dan dikagumi dunia.

Helda Mildiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.