Mudah Dirawat dan Tahan Penyakit, Sapi Bali Jadi Pilihan Utama DTPHP Berau untuk Petani

oleh -11 views
Sapi Bali

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS — Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Berau membeberkan alasan di balik pemilihan sapi Bali sebagai 90 ekor hewan ternak yang disalurkan kepada para petani lokal. Varietas ini dinilai paling relevan dengan kondisi geografis dan pola pemeliharaan peternak di Berau.

Kepala DTPHP Berau, Lita Handini, menjelaskan bahwa ketersediaan bibit sapi Bali lebih mudah didapatkan dibandingkan jenis sapi luar lainnya yang populasinya terbatas di Indonesia. Selain itu, daya tahan tubuhnya menjadi pertimbangan utama.

“Sapi Bali ini paling tahan beradaptasi dengan lingkungan baru, lebih tahan penyakit, dan pemeliharaannya gampang. Tidak perlu penanganan khusus seperti sapi jenis lain,” ujar Lita.

Ketahanan fisik ini sangat krusial mengingat proses pengiriman ternak dari daerah asal, seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), membutuhkan waktu perjalanan laut hingga dua minggu. Sapi Bali terbukti mampu bertahan dalam kondisi perjalanan jauh tersebut.

Selain itu, karakteristik sapi Bali yang tidak pemilih dalam hal pakan sangat sesuai dengan kebiasaan peternak di Berau yang umumnya menggembalakan ternak di area perkebunan. Hewan ini dapat mengonsumsi berbagai jenis rumput hijauan tanpa menyulitkan penyediaan pakan sehari-hari.

Terkait kesehatan pascadistribusi, DTPHP Berau memastikan penyaluran dilakukan melalui tahapan karantina yang ketat. Sebelum dikirim, sapi telah melewati masa karantina dan vaksinasi di daerah asal, lalu kembali dikarantina selama dua hingga tiga hari di lokasi penerimaan awal.

“Setibanya di kelompok tani, kami minta ternak dikarantina kembali di kandang penampungan selama dua hingga tiga hari sebelum dibagikan perorangan atau dikelola dalam kandang kelompok,” jelas Lita.

Selama dua minggu hingga satu bulan pertama, seluruh ternak berada dalam pengawasan ketat petugas teknis lapangan yang dibekali suplai obat-obatan dan vitamin. DTPHP juga melatih peternak memanfaatkan pengobatan tradisional berbahan rempah atau empon-empon, seperti kunyit, guna meningkatkan nafsu makan dan mengobati luka ringan.

Pengawasan medis ini turut diperkuat oleh dokter hewan yang berkoordinasi secara berkala dengan petugas teknis. “Kalau misalnya perlu pengobatan yang lebih serius, dokter hewan bisa langsung datang ke lokasi untuk membantu. Jadi terus dipantau, karena jangan sampai sapi yang baru datang ini nanti sakit atau bahkan mati, kan sayang,” pungkasnya.

(ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.