Pembangunan Museum di Berau, M. Ichsan Rapi: Simbol Peradaban dan Penggerak Ekonomi

oleh -18 views
M. Ichasan rapi

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS – Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Berau, M. Ichsan Rapi, mendorong Pemerintah Kabupaten Berau untuk segera menginisiasi pembangunan museum daerah. Menurutnya, keberadaan museum sangat krusial sebagai pusat pelestarian peradaban, sarana edukasi bagi generasi muda, sekaligus magnet baru bagi sektor pariwisata.

Ide ini muncul setelah pria yang akrab disapa Daeng Icang ini mengikuti agenda Jambore Literasi bersama para pendidik ke Perpustakaan dan Museum Kepresidenan Balai Kirti di Bogor, beberapa waktu lalu.


Wisata Edukasi yang Sehat dan Mendidik

“Pikiran saya tergelitik, bagaimana jika Berau memiliki museum sendiri? Tempat ini akan menjadi destinasi wisata edukasi yang sehat, mendidik, dan rekreatif bagi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum,” ujar Icang.

Ia menjelaskan bahwa museum tersebut nantinya dapat menjadi ruang pamer dokumentasi fisik maupun visual sejarah panjang Kabupaten Berau, termasuk sejarah dua kesultanan besar yang ada di Bumi Batiwakkal.

“Kita bisa menampilkan rekam jejak kepemimpinan dari Bupati pertama hingga saat ini, mulai dari era kepemimpinan Bapak Masjuni, Makmur, almarhum Muharram, hingga Bupati Hj. Sri Juniarsih. Ini penting agar generasi mendatang tidak kehilangan akar sejarahnya,” tambahnya.

Museum Sebagai Simbol Peradaban
Lebih jauh, Icang menekankan bahwa museum memiliki tanggung jawab besar dalam melestarikan budaya masyarakat, baik yang berwujud (tangible) maupun tidak berwujud (intangible). Selain itu, museum juga berperan sebagai tempat pembentukan ideologi, kedisiplinan, dan pengembangan pengetahuan publik.

“Museum adalah simbol sebuah peradaban. Kehadirannya menunjukkan seberapa besar penghargaan kita terhadap sejarah dan budaya lokal,” tegasnya.

Efek Domino bagi Ekonomi (Multiplier Effect)
Politisi Komisi III ini juga menyoroti dampak ekonomi yang bisa dihasilkan dari keberadaan museum atau yang sering disebut sebagai multiplier effect. Beliau berkaca pada kisah sukses Museum Guggenheim di Bilbao, Spanyol.

“Dahulu, Bilbao mengalami kelesuan ekonomi yang luar biasa. Namun, setelah museum di sana direnovasi secara besar-besaran, museum tersebut menjadi episentrum perputaran ekonomi kota. Kunjungan wisatawan yang membludak mampu menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, hingga industri kerajinan,” papar Icang.

Ia meyakini, jika Kabupaten Berau mampu mengadopsi semangat “Bilbao Effect” tersebut dengan menonjolkan kekuatan lokalitasnya, maka sektor UMKM, kuliner, dan jasa transportasi di Berau akan ikut bergeliat.

“Keberhasilan Bilbao menjadi rujukan dunia dalam menemukan kekuatan lokal untuk kesejahteraan warga. Saya optimis, dengan adanya museum yang representatif, ekonomi kreatif di Berau akan hidup dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

Pembangunan Berkelanjutan dan Skala Prioritas
Meski mendorong penuh kehadiran museum, M. Ichsan Rapi menyadari bahwa realisasi ide besar ini harus diselaraskan dengan skala prioritas pembangunan daerah lainnya. Ia menekankan bahwa pembangunan fisik yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat tetap menjadi hal yang paling urgen untuk saat ini.

“Tentu kita memahami ada pembangunan fisik lain yang lebih mendesak dan menjadi kebutuhan primer masyarakat Berau saat ini. Namun, wacana museum ini adalah investasi jangka panjang untuk peradaban kita,” jelas Icang.

Menurutnya, perencanaan museum bisa dimulai secara bertahap seiring dengan tuntasnya proyek-proyek infrastruktur vital lainnya. Dengan demikian, ketika infrastruktur dasar sudah mantap, kehadiran museum akan menyempurnakan wajah Kabupaten Berau sebagai daerah yang maju secara fisik namun tetap teguh memegang nilai-nilai sejarah dan budaya.

(adv/dprd26/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.