“Kenapa Bukan Orang Tua yang Diberikan Seminar?”

oleh -64 views
Seminar kesehatan mental di SMA 2 Tenggarong Seberang hasil kerja bareng HPU dan Komunitas Emak Peduli Anak.

TENGGARONG SEBERANG – Seminar dan Sosialisasi Kesehatan Mental di SMA Negeri 2 Tenggarong Seberang, Senin (15/6) tadi tidak hanya menghadirkan penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang dialog antara peserta dan narasumber yang dihadirkan. Suasana hangat dan penuh antusiasme ini terlihat saat para siswa aktif mengajukan pertanyaan terkait persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Robiatul Adawiyah, siswi kelas XI ini misalnya, mengaku sering menjadi tempat curhat teman-temannya. Namun, niat baik yang ia berikan melalui nasihat kerap mendapat respons yang tidak sesuai harapan.

“Saya sering menjadi tempat curhat, dan ketika saya memberikan nasihat justru saya mendapatkan respons sebaliknya. Padahal saya ingin membantu, dan teman saya malah playing victim,” ujarnya dalam kegiatan bertema “Kenali Diri, Kelola Emosi, Raih Masa Depan yang Lebih Sehat” ini.

Dalam seminar hasil kerja sama Komunitas Emak Peduli Anak Kaltim bekerja sama dengan PT Harmoni Panca Utama (HPU) itu, juga ada siswa yang dengan gamblang menyampaikan, ternyata mereka merasakan pola asuh dari kedua orang tuanya selama ini ada yang perlu diperbaiki.

Menanggapi hal tersebut, Endro S. Efendi, praktisi hipnoterapis klinis yang dihadirkan sebagai narasumber menjelaskan, perilaku seseorang yang playing victim atau selalu merasa menjadi korban, umunya dipengaruhi pengalaman masa lalu. “Salah satunya, minimnya apresiasi yang diterima seseorang saat tumbuh dan berkembang,” bebernya.

Karena itu, menurut Endro, perilaku yang selalu merasa menjadi korban itu terkadang menjadi cara untuk mencari perhatian dan pengakuan dari lingkungan sekitar. “Agar dia tidak selalu disalahkan. Padahal jelas-jelas apa yang dilakukan memang kurang tepat,” katanya.

Antusiasme siswa mengikuti seminar kesehatan mental di SMA 2 Tenggarong Seberang.

Terkait dengan pola asuh orang tua yang kurang baik, Endro menyampaikan, sebagai anak tidak perlu berharap atau memaksakan diri untuk mengubah orang tua. “Coba ingat sejarah. Nabi Ibrahim pun ayahnya pembuat patung berhala. Tapi apakah beliau memusuhi ayahnya? Beliau tetap mendoakan yang terbaik kepada Allah. Jadi mari doakan kedua orang tua kita yang terbaik. Mari kita mulai ubah diri kita masing-masing menjadi lebih baik,” ajak Endro.

Dalam kesempatan yang sama, Nur Hasanah, siswi peserta seminar juga mempertanyakan alasan kegiatan kesehatan mental lebih banyak menyasar kalangan pelajar dibandingkan orang tua.

“Seharusnya, seminar ini diberikan untuk para orang tua. Kenapa justru kami yang diberikan pemahaman soal ini,” tanyanya. Siswi ini pun menyampaikan betapa tidak mudahnya berharap orang tua bisa berubah.

Menjawab pertanyaan tersebut, Ria Atia Dewi, ketua Komunitas Emak Peduli Anak Kaltim yang juga moderator dalam seminar itu menjelaskan, pendekatan kepada generasi muda merupakan salah satu upaya membangun perubahan jangka panjang.

“Pola asuh generasi terdahulu berbeda. Karena itu, edukasi kepada generasi muda diharapkan dapat memutus rantai pola asuh yang kurang tepat dan melahirkan agen perubahan di masa depan,” ujarnya.

Ria juga menjelaskan, di kesempatan berbeda, kegiatan serupa juga akan dilakukan untuk para orang tua, agar memiliki pemahaman yang sama. “Jadi tidak hanya untuk siswa saja,” katanya.

Menjawab pertanyaan itu, Endro kemudian menambahkan tidak sedikit orang tua tumbuh dalam lingkungan yang minim edukasi mengenai kesehatan mental. Berbagai tuntutan hidup yang mereka hadapi membuat perhatian lebih banyak tercurah pada pemenuhan kebutuhan ekonomi dibandingkan pemahaman terhadap kondisi psikologis keluarga.

“Apa yang sudah dilakukan orang tua, bukan untuk disalahkan. Tapi mari kita pahami bersama sebagai bagian dari tantangan yang perlu diperbaiki melalui edukasi yang berkelanjutan untuk kepentingan masa depan,” urainya.

Dijelaskan juga, seminar ini sengaja diberikan kepada generasi muda, agar tidak mengulangi kesalahan sama terhadap apa yang sudah terjadi pada generasi sebelumnya. “Mari kita putus lingkaran setan pola asuh yang kurang tepat. Kita mulai dari generasi adik-adik semua,” pungkas Endro. (esf/rls)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.