Pesona Bahari Berau di Panggung Dunia, Anisah Dhiya Azizah dan Kilau “Gemala Bahari” di ISEF 2026

oleh -149 views
Desainer muda asal Kabupaten Berau, Anisah Dhiya Azizah (Cica) melalui brand ANISDHYA, sukses tampil memukau dalam ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta. foto dok

PANGGUNG megah Jakarta International Convention Center (JICC) mendadak bergetar oleh gelombang keanggunan pesona alam Kabaupaten Berau, Kalimantan Timur pada 16 Oktober 2026 lalu. Di tengah gemerlap lampu peragaan busana ajang fesyen syariah terbesar di dunia, Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, seorang desainer muda asal Kabupaten Berau tampil memukau, membentangkan mahakarya yang mengangkat keindahan tanah kelahirannya ke hadapan penonton nasional hingga internasional.

Ia adalah Anisah Dhiya Azizah—perempuan muda berbakat yang akrab disapa Cica. Lewat label fesyen miliknya, ANISDHYA, Cica mempersembahkan koleksi busana memukau bertajuk “Gemala Bahari”.

Hasil rancangan Anisah Dhiya Azizah

Keindahan Pulau Kakaban yang Diterjemahkan ke Kain Wastra
Nama “Gemala Bahari” bukan sekadar pilihan kata yang puitis. Koleksi ini lahir dari inspirasi mendalam terhadap keajaiban wisata bahari Kabupaten Berau yang termasyhur, yakni Pulau Kakaban.

Siluet dari setiap busana dalam koleksi ini diadaptasi secara cermat dari bentuk fauna endemik yang hidup di dalamnya—termasuk ubur-ubur tidak menyengat yang menjadi ikon unik pulau tersebut. Tak hanya berhenti pada bentuk fauna, lekuk eksotis Pulau Kakaban juga dituang ke dalam motif kain batik hasil kolaborasi apik antara brand ANISDHYA dengan pengrajin lokal Putri Maluang Batik.

“Komposisi motif didesain dan disesuaikan langsung dengan cap yang dimiliki oleh Putri Maluang,” ungkap Cica menceritakan proses kreatif di balik layar kepada Dimensinews.id.

Hasilnya adalah perpaduan harmonis antara motif batik tradisional dengan sentuhan gaya modern yang kekinian (athleisure). Mengusung konsep gaya yang fleksibel dan bisa digunakan di berbagai kesempatan, koleksi ini berfokus pada teknik mix and match. Item-item busana yang ditampilkan tampak sederhana, namun dirancang agar mudah dipadupadankan, membuktikan bahwa batik lokal tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga hidup dan dinamis mengikuti tren fesyen masa kini.

Kurasi Ketat dan Panggung Global ISEF 2026
Keikutsertaan ANISDHYA di ajang ISEF 2026—yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia—memiliki arti tersendiri. Ini adalah kali kedua Cica bergabung dalam perhelatan akbar tersebut. Namun, ada lompatan besar yang membanggakan: jika tahun sebelumnya ia hadir sebagai kolaborator dengan pengrajin, kali ini brand ANISDHYA lolos kurasi ketat IKRA (Industri Kreatif Syariah) yang dinaungi oleh Bank Indonesia.

Kesempatan emas ini tidak hanya membawa Cica untuk menampilkan koleksi terbarunya di panggung fashion show, tetapi juga membuka peluang besar untuk berjualan, memperluas jejaring, serta menimba ilmu tentang strategi pasar langsung dari para pembeli (buyers) lokal maupun internasional.


Dari Kecintaan Masa Kecil hingga Pulang Membangun Berau

Kecintaan Cica pada dunia mode bukanlah hal yang instan tumbuh di usia dewasa. Lahir di Berau pada 7 Oktober 2000—sebagai putri pertama dari tiga bersaudara pasangan Rusnan Hefni (Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Berau) dan ibundanya Sosilawati. Tumbuh dari keluarga harmonis ini Cica sudah menaruh minat besar pada kreativitas dan dunia fesyen sejak kecil.

Dukungan penuh dari orang tua menjadi bahan bakar utama bagi Cica untuk menempuh jalurnya secara profesional. Ia memulainya dengan menimba ilmu di SMK Negeri 1 Berau jurusan Tata Busana, melanjutkan pendidikan non-formal di Islamic Fashion Institute, hingga memperdalam wawasan akademisnya dengan mengambil gelar S1 di Universitas Telkom pada jurusan Kriya Tekstil dan Fashion.

Setelah merantau dan menimba ilmu di berbagai tempat, panggilan jiwa untuk memajukan daerah asal akhirnya membawa Cica pulang ke Berau pada tahun 2024. Di tanah kelahirannya, ia mendirikan studionya sendiri dan mulai menerima pesanan khusus (made by order). Memasuki tahun 2025, langkahnya semakin mantap dengan memproduksi busana ready-to-wear yang dirancang untuk dikenakan sehari-hari dengan sentuhan wastra kebanggaan: Batik Berau.
Anisah Dhiya Azizah

Misi Besar untuk Identitas Budaya
Cica memiliki cita-cita yang kuat dan konsisten. Melalui setiap helai busana berbalut motif Batik Berau, ia ingin memperkuat identitas daerah sekaligus memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Berau ke masyarakat yang jauh lebih luas.

Tidak berjalan sendiri, Cica aktif berkolaborasi dengan rekan-rekan seprofesi di industri kreatif Berau, bahu-membahu menyelenggarakan berbagai event lokal demi menghidupkan ekosistem fesyen di daerah.

Kisah Anisah Dhiya Azizah di panggung ISEF 2026 adalah bukti nyata bahwa kreativitas anak muda daerah, jika disandingkan dengan ketekunan, ketulusan, dan cinta pada identitas lokal, mampu menembus batas geografis dan berkilau terang di kancah nasional. Dari Berau untuk Indonesia, karya Cica dan “Gemala Bahari”-nya telah membuktikan bahwa pesona nusantara tak pernah kehabisan cerita untuk dibanggakan.

(Helda Mildiana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.