Kemarau, Harga Jagung Capai Rp10 Ribu per Biji hingga Cabai Tembus Rp140 Ribu

oleh -15 views
Jagung di pasar Sanggam Adji Dilyas. foto dok

TANJUNG REDEB, DIMENSINEWS — Kabupaten Berau menghadapi gelombang lonjakan harga komoditas sayur-mayur dan bahan pokok. Fenomena cuaca ekstrem berupa kemarau panjang yang melanda dalam tiga bulan terakhir memicu gagal panen massal di tingkat petani lokal, yang berdampak langsung pada meroketnya harga di pasaran.

Lonjakan harga paling mencolok terjadi pada komoditas jagung. Di Pasar Sanggam Adji Dilayas (SAD) Teluk Bayur, harga jagung dengan berat kurang dari satu kilogram per buah kini menyentuh angka Rp10.000 hingga Rp15.000 per biji.

Badri, salah seorang pedagang sayuran di Pasar SAD, padda Rabu (14/10/2026) di pasar SAD mengungkapkan bahwa dirinya bersama pedagang lain terpaksa mendatangkan pasokan dari luar daerah karena petani lokal di Kabupaten Berau mengalami gagal total.

“Hampir tiga bulan ini sayuran jagung tidak bisa didapatkan di Kabupaten Berau. Kami harus membeli dari Samarinda dengan harga sekitar Rp1.200.000 per karung, itu pun belum termasuk ongkos kirim ke Berau,” ujar Badri.

Selain jagung, komoditas cabai atau lombok juga mengalami nasib serupa. Tanaman cabai milik petani lokal tidak dapat diproduksi akibat kekeringan yang berkepanjangan. Akibatnya, pasokan cabai kini sepenuhnya bergantung dari luar daerah, termasuk mendatangkan cabai dari Sulawesi. Berdasarkan data di lapangan, harga cabai saat ini melonjak drastis di kisaran Rp100.000 hingga Rp140.000 per kilogram akibat tidak adanya kompetitor lokal. Komoditas lain seperti terong dan sayuran hijau pun turut mengalami kenaikan harga secara signifikan.

Tanggapan Dinas Pangan
Plt. Kepala Dinas Pangan Berau, Tenteram Rahayu, membenarkan bahwa kondisi tanah yang kering akibat kemarau ekstrem menjadi akar permasalahan minimnya pasokan panen lokal, yang kemudian memicu lonjakan harga di pasaran.

“Dampak dari musim kemarau ini, sayur dan jagung semuanya naik. Kondisi tanahnya memang terdampak. Harga jagung kini sudah menyentuh Rp10.000, bahkan ada yang mencapai Rp15.000,” kata Tenteram.

Ia mengakui bahwa fenomena ini murni dipicu oleh faktor alam yang sulit diselesaikan secara instan, mengingat pasokan dari petani lokal belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Untuk menyikapi situasi ini, pihak Dinas Pangan mengimbau masyarakat agar sementara waktu dapat menyesuaikan pola konsumsi dan mengurangi pembelian komoditas yang mengalami lonjakan ekstrem.

“Kalau memang mahal, ya sudahlah kita berhenti dulu sebentar makan jagung. Karena ini fenomena alam akibat kemarau, coba kalau tidak kemarau pasti normal. Untuk saat ini kita belum ada solusi instan selain berdoa agar musim hujan segera tiba dan kondisi kembali normal,” pungkasnya.

Pemerintah daerah berharap perubahan cuaca dan datangnya musim penghujan dalam waktu dekat dapat segera memulihkan produktivitas sektor pertanian lokal serta menstabilkan kembali harga pangan di pasaran.

(ton/hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.